“Mas Bara... Mas Bara kritis, Mbak. Kecelakaan. Sekarang koma di ICU Semarang. Dokter bilang harapan hidupnya tipis.” Keyna terisak, napasnya tersengal. “Aku mohon, Mbak. Aku tidak minta Mbak kembali ke Mas Bara. Aku hanya minta... minta belas kasihan Mbak.”Azalea diam. Ia tidak menjawab. Arsen yang dari tadi memperhatikan, mendekat, memberi isyarat siapa?. Azalea menutup mic ponsel, berbisik, “Keyna.”Keyna melanjutkan, suaranya semakin pilu. “Mbak, aku tahu Mbak dan Mas Bara belum resmi cerai. Secara hukum, Mbak masih istrinya. Kalau Mas Bara meninggal... semua harta, semua hak waris jatuh ke Mbak dan Bu Ratna. Aku tidak dapat apa-apa, Mbak. Padahal aku mengandung anaknya. Lima bulan, Mbak. Anak ini tidak berdosa.”Azalea menggenggam ponsel erat. “Lalu kamu mau apa?”“Aku ... aku mohon, Mbak. Percepat perceraian Mbak dengan Mas Bara. Biar aku bisa nikah r
Read more