Bara masih berlutut di teras, kepalanya menunduk, air mata belum kering. Azalea menatapnya, dada naik turun menahan amarah yang sudah di ujung tanduk.“Mas Bara,” suaranya dingin, setajam pisau. “Berhenti akting seolah-olah Mas yang paling sedih di dunia. Berhenti main peran seolah aku ini penjahat yang buang suami. Aku muak, Mas.”Bara mengangkat wajah, mata sembab. “Zel, aku tidak akting. Aku hancur beneran—”“Cukup!” potong Azalea. “Suka atau tidak, terima atau tidak, aku sudah tidak mau ambil pusing lagi dengan sikap Mas. Mau nangis, mau sujud, mau mati, itu urusan Mas. Aku? Selamat tinggal, Bara.”Kalimat itu final. Tidak ada jeda. Tidak ada ruang. Azalea balik badan, mendorong pintu rumah produksi, masuk tanpa menoleh. Pintu tertutup.Blam.Bara tetap berlutut. Dia percaya pada skenario. Di drama, kalau pria berlutut sampai hujan turun, wanita pas
Read More