Berbeda dengan Yuniver yang tersenyum puas, Kael membeku di tempatnya. Pengawal itu menatap Ditrian tidak percaya, tapi Yuniver tidak peduli. Yang ia tahu, Ditrian kembali memilihnya tanpa ragu seperti sebelumnya. Ia masih bingung kenapa hal itu bisa terjadi, padahal hubungan Yuniver asli dan Ditrian seharusnya buruk dan penuh kebencian. Namun kenyataannya justru sebaliknya, setiap masalah Ditrian selalu berada di sisinya, membuat Yuniver merasa aman sekaligus bingung. Tanpa banyak berpikir, ia mendekat dan menggandeng lengan Ditrian, lalu menatap wajah pria itu yang tetap tenang dengan mata abu-abu kosong, sesuatu yang selalu membuat Yuniver terus memperhatikannya. "Yuni, kau senang?""Saya senang," jawab Yuniver ringan ketika Ditrian bertanya, tanpa sedikit pun menyembunyikan perasaannya.Lalu ia menoleh ke arah Kael, dengan ekspresi yang tidak bisa disebut ramah. Lebih tepatnya, ekspresi puas yang terang-terangan."Kael, menyingkirlah!"Ia tidak memberi ruang untuk perdebatan. Men
Read more