Yuniver sempat ingin langsung menjawab, namun begitu ia membuka mulut, kata-kata yang sudah tersusun di kepalanya mendadak menghilang begitu saja. Ia berhenti, menutup mulutnya kembali, lalu menghela napas pelan seolah kesal pada dirinya sendiri.Di hadapannya, Ditrian tidak mendesaknya. Pria itu hanya duduk tenang seperti biasa, menunggu dengan sabar sampai Yuniver siap berbicara.“Istriku,” panggilnya pelan setelah beberapa saat.Yuniver langsung tersadar dan mengangkat wajahnya.“Ah, ya,” jawabnya cepat, sedikit terburu-buru. Lalu ia menatap Ditrian dengan lebih fokus. “Apa maksud Anda tentang orang yang tidak ingin bekerja bersama saya?”Ditrian terdiam sesaat. Bukan karena ragu, tetapi seperti sedang memilih kata yang paling tepat.“Aku rasa aku harus memberitahumu,” ucapnya akhirnya, tenang seperti biasa, “agar kau tidak memarahi orang lain lagi.”Yuniver mengerjap, lalu mengangguk kecil.“Benar,” katanya. “Anda memang harus menjelaskannya.”Hening singkat menyusul sebelum Ditri
Read more