Kael sedikit mengangkat kepalanya, ia tampak ragu terhadap perintah yang baru saja didengarnya."Dokter, Yang Mulia?"Ditrian tidak mengulang ucapannya. Wajahnya tetap tenang, tetapi garis rahangnya tampak mengeras. Pelukan di sekeliling Yuniver tidak pernah terlepas, seolah ia khawatir wanita itu akan kembali menangis jika ia menjauh."Segera," ucapnya mantap. "Panggil dokter wanita yang paling dapat dipercaya di ibu kota. Pastikan ia tiba di kastil malam ini juga."Nada suaranya tidak tinggi, bahkan terdengar tetap tenang seperti biasanya. Namun justru ketenangan itulah yang membuat perintah itu terasa mutlak. Tidak ada ruang untuk bertanya, apalagi membantah.Kael segera menundukkan kepalanya lebih dalam."Baik, Yang Mulia."Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan koridor. Kepala pelayan pun memberi hormat sebelum buru-buru mengikuti dari belakang, meninggalkan suasana yang sejak tadi dipenuhi ketegangan.Tak lama kemudian, koridor itu menjadi sunyi.
Read more