Raymond menarik Jovita lebih dekat, dada bidangnya menempel pada punggung lembut sang istri. Air hangat berombak pelan saat tubuh mereka saling bersentuhan.Tak ingin menyia-nyiakan tubuh indah istrinya, bibir Raymond langsung menyusuri garis leher Jovita, meninggalkan jejak basah yang bercampur dengan uap jacuzzi.“Cantik…” gumam Raymond, suaranya rendah dan serak. “Padahal di rumah tadi habis mandi, tapi lihat kamu seperti ini… aku jadi pengen ikut berendam.”“Dasar Om Raymond. Pakai baju utuh saja dipreteli, apalagi sudah seperti ini.” Jovita terkekeh pelan. “Awas, nanti demam.”“Sekarang kan, ada istri yang merawat.” Raymond kembali melabuhkan kecupan hangat di punggung Jovita.Suasana mendadak hening, Raymond mengeratkan pelukannya, seolah jika dia melepaskan, Jovita akan pergi selamanya.“Kau milikku… selamanya hanya milikku, Jo.” Suara serak Raymond terdengar sangat posesif.Perselingkuhan Felisa di masa lalu telah meninggalkan luka yang mendalam. Dan kali ini, Raymond tak ingi
Leer más