Di dalam kamar Viola, kedua sahabat itu duduk berhadapan di tepi tempat tidur, berbincang begitu akrab seolah hubungan mereka baik-baik saja. Tak ada kebencian di hati Viola, dan tak ada rahasia di sisi Jovita. “Kalau sudah lulus nanti, apa rencanamu, Jo?” Sambil memangku bantal, Viola terlihat sangat penasaran. Jovita sempat terdiam sejenak. Ingatannya mendadak melayang pada pembicaraan hangat bersama Raymond, rencana mereka untuk melakukan promil setelah Jovita lulus. Dan nasihat Bi Siti agar dia segera hamil sempat terlintas di pikirannya. Namun, menyadari posisinya, Jovita dengan cepat mengubur rapat kenyataan itu dan menjawab menggunakan impian lamanya, impian sebelum garis takdir menyatukannya dengan Raymond. “Aku bakal langsung cari kerja, Vio. Apa pun pekerjaannya, yang penting halal dan hasilnya jelas.” Terdengar klise, tapi itulah impian Jovita di masa-masa sulitnya. “Aku ha
Read more