Dada Viola bergemuruh hebat. Perasaan cemas, geli, sekaligus bingung bercampur menjadi satu.Gadis itu tidak tahu harus membagi perasaan gundah dan mengganjal ini kepada siapa. Ponsel Jovita, satu-satunya sahabat yang biasa menjadi tempatnya mencurahkan isi hati, masih tetap tidak aktif.Dalam keputusasaan dan rasa sepi yang menghimpit, Viola memberanikan diri menekan kontak Dylan di layar ponselnya.Begitu panggilan terhubung, Viola menahan napas sejenak. "Halo, Dylan... Apakah aku mengganggu waktumu?" tanyanya pelan.Sikap Viola kini jauh berbeda. Ia tak lagi seagresif atau memaksakan kehendak seperti dulu. Tanpa disadarinya, nada bicara yang tenang, lembut, dan sedikit ragu-ragu ini justru sangat meniru pembawaan Jovita yang sering ia amati.Di seberang telepon, Dylan sempat diam sejenak sebelum menjawab datar, "Tidak. Ada apa, Vio?""Bisa kita bertemu sebentar?" bisik Viola, suaranya terdengar bergetar menahan cemas. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan... Aku benar-benar tidak t
Leer más