Perlahan tangan Martin menelusup di balik rok pensil Erika, memainkan jarinya di atas paha mulus yang langsung menjepit jarinya dengan erat. Oh... begitu ya," Di seberang sana, suara Sandra terdengar agak kecewa, namun tampaknya dia menerima alasan sang ayah. "Ya sudah kalau begitu. Papa jangan lupa makan malam, ya. Oh ya, Papa... tadi aku sempat bertemu Erika di kafe dekat kampus." Mendengar namanya disebut langsung oleh Sandra di depan Martin, jantung Erika rasanya seperti berhenti berdetak. Permainan jari Martin di pahanya terasa semakin menghangat dan membangkitkan gairahnya. "Oh, ya? Bagaimana kabarnya?" tanya Martin, suaranya tetap datar dan kasual, seolah dia baru pertama kali mendengar nama itu hari ini. "Dia baik, tapi dia kelihatan sangat lelah karena sibuk mengurus skripsi dan... ah, tidak ada apa-apa, Pa. Pokoknya Papa harus jaga kesehatan. Aku tutup dulu ya, Pa. Love you." "Love you too, Sandra." Bunyi bip panjang menandakan panggilan berakhir, dan bersama
Read more