LOGINErika mencoba memberontak, tapi tubuhnya lemas oleh panas yang membuatnya hampir tak berdaya. Daren tertawa kecil melihat hal itu. Tangannya yang bebas bergerak turun, menarik tali gaun tipis Erika hingga kain itu melorot turun, membiarkan udara malam menyentuh kulit bahu Erika yang terbakar oleh efek obat yang Daren berikan ke dalam minumannya tadi. Daren menatap Erika dengan mata yang membelalak puas, bersiap untuk merenggut segalanya di bawah kegelapan malam yang sunyi. Dunia Erika berputar hebat. Sentuhan Daren yang kasar di bahunya terasa seperti api yang membakar saraf-sarafnya. Tepat saat bibir Daren hampir menyentuh bibir Erika, sebuah dentuman keras terdengar. Pintu mobil dibuka paksa dengan satu hentakan brutal. Dalam hitungan detik, kerah kemeja Daren ditarik kasar dari belakang, membuat pria itu terlempar keluar dari mobil hingga jatuh tersungkur ke aspal. Martin berdiri di sana. Wajahnya bukan lagi topeng tenang yang ia pakai saat makan malam tadi. Kini, yang
“Erika, kamu harus ikut! Jangan menolak, ya?" Sandra merengek di ujung telepon dengan suara yang sangat bersemangat. "Akhir-akhir ini kita jarang keluar bareng. Jadi kali ini aku nggak mau menerima penolakan apapun.” Erika sempat ragu, namun desakan Sandra yang luar biasa membuatnya tidak punya pilihan. Lagi pula, dia merasa berhutang budi karena sudah sering berbohong pada sahabatnya itu. "Baiklah, San. Aku akan datang." Malam itu, Erika berdandan sederhana namun elegan. Ia menemui Sandra di sebuah restoran eksklusif. Restoran itu terasa sangat mewah, namun bagi Erika, suasananya terasa seperti ruang interogasi. Ia duduk di samping Sandra. Di seberang Sandra, duduk Daren, pria yang baru saja dikenal Erika kurang dari satu jam namun sudah menunjukkan ketertarikan yang terlalu agresif. "Erika, kamu harus coba wine ini," ujar Daren dengan senyum ceria. Matanya menatap Erika dengan binar yang membuat Erika makin tidak nyaman. Daren adalah tipikal pria yang tahu cara memikat wa
Erika mendekat, menempelkan bibirnya pada bibir Martin. “Aku tau om bisa nahan diri, tapi aku menginginkannya…” Martin terdiam. Tatapannya masih tampak menimbang sesuatu yang sangat berat. Perlahan Erika mendorong tubuh Martin, membuat posisi mereka berbalik. Erika duduk di atas Martin yang berbaring telentang di atas ranjang. Martin terkesiap. Ia sempat mengangkat wajah, tapi sebelum mengatakan sepatah kata pun, Erika kembali mendaratkan ciuman ke bibir tebal pria itu. Mata Martin membelalak, tapi Erika tak peduli. Erika hanya ingin Martin merasakan apa yang ia rasakan. Erika kembali duduk dan mulai menggerakkan pinggulnya perlahan. Handuk yang masih menutupi tubuh bagian bawah pria itu bergerak seirama dengan gerakan Erika. “Kamu keras karena aku, Om..” ucap Erika pelan. “Kalau begitu biarkan aku bantu kamu sampai puas,ya.” “Erika…” Martin mengerang. Matanya terpejam, sementara rahangnya menegang. Kedua tangannya mencengkeram pinggul Erika, tetapi tidak menahan ge
Erika menatap pria di hadapannya tanpa ragu. Jemarinya perlahan menyentuh dada pria itu. Napasnya mulai berat, tapi dia tidak berhenti. Erika ingin Martin tahu betapa ia menginginkannya. Martin menggenggam tangan Erika, menahan gerakan gadis polos yang kini —mulai berani itu. Gerakannya tegas, tetapi matanya berkata lain. Martin seperti pria kehilangan kendali atas dirinya sendiri. “Erika,” suaranya serak, penuh peringatan. “Kamu jangan —“ Suaranya terputus ketika jemari Erika mengusap kulit perutnya. Martin menggeram, tubuhnya menegang lalu menghembuskan napas keras seolah telah kalah sepenuhnya. Tangan besarnya menarik pinggang Erika. Dalam sekali hentakan, tubuh Erika terangkat ke dalam pelukannya. Erika terkesiap lalu tersenyum. Tangannya melingkar erat pada leher Martin. Sekarang, Erika dapat mendengar dengan jelas detak jantung ayah sahabatnya itu. Seirama dengan detak jantungnya sendiri yang tak karuan. Martin membawa tubuh Erika keluar dari ruang wardrobe. Kulit Ma
Martin meraih kedua lengan Erika, membawanya untuk berdiri. Jantung Erika berdentum tak karuan saat perut bagian bawahnya bergesekan dengan bagian tubuh Martin yang menonjol keras dibalik kain handuk. Perlahan Martin menarik tubuh Erika kemudian menekannya ke dinding kamar, tepat di samping kaca besar dengan tirai terbuka. Punggung Erika merasakan dinding kamar yang dingin, kontras dengan panas yang menjalar di antara mereka. Martin menunduk dan mulai mencium bibir ranum Erika. Kali ini bukan lagi ciuman bimbingan, tetapi sebuah ciuman yang menuntut. Lidah Martin menyapu lembut, memancing lidah Erika yang kaku untuk ikut bergerak, menariknya ke dalam ritme yang lebih dalam dan mendesak. Jika saja di bawah sana ada orang yang melintas melewati mansion mewah itu, Erika yakin mereka bisa melihat apa yang sedang Martin lakukan padanya saat ini. Namun, entah mengapa Erika sama sekali tak peduli. Ia tak takut diketahui orang lain. Gairahnya malah makin memuncak membayangkan orang
Lidah Martin menyapu lembut, mengundang lidah Erika yang kaku untuk ikut bergerak. Erika yang awalnya menegang perlahan-lahan mulai melunak di dalam dekapan hangat itu. Tangannya yang berada di dada Martin perlahan merayap naik, mencengkeram bahu kokoh sang konglomerat seiring dengan rasa melayang yang mulai menguasai kesadarannya. Ketika napas Erika mulai memburu dan tubuhnya mendamba lebih banyak kehangatan dari pria dewasa itu, Martin mendadak menarik bibirnya. Pria itu menghentikan sentuhannya, menyisakan jarak beberapa sentimeter di antara wajah mereka yang memerah. Erika membuka matanya dengan linglung, napasnya tersengal-sengal di depan bibir Martin. Ia menatap Martin dengan tatapan tidak rela sekaligus menuntut—sebuah reaksi alami tubuh yang terlanjur terbakar gairah namun mendadak dipadamkan. Martin mengulas senyum kemenangan yang begitu pekat. Ia merapikan beberapa helai rambut Erika yang basah karena keringat dingin di dahinya. Strategi tarik ulur ini bekerja dengan
“Erika? Kok kamu malah melamun?" Sandra mengonfirmasi, alisnya bertaut melihat reaksi sahabatnya yang tampak seperti patung. “Kamu mau kan membantuku? Hanya kamu satu-satunya orang yang bisa kupercaya di kantor Papa sekarang." Erika menelan ludah. Di bawah meja, jemarinya yang mencengkeram kai
Sinar matahari pagi menembus jendela besar kamar tamu mansion milik Martin, membangunkan Erika dari tidur yang tidak sepenuhnya nyenyak. Di atas nakas, seseorang telah menyiapkan satu set pakaian baru yang sangat pas dengan ukurannya—blazer hitam potongan modern, kemeja satin putih, dan rok pensi
Erika menatap map biru tua itu dengan tatapan nanar, sementara otaknya berputar cepat mencoba mencari celah waras yang tersisa. “Om... ini tidak masuk akal. Aku masih berstatus mahasiswi aktif. Aku punya skripsi yang harus diselesaikan semester ini. Bagaimana mungkin aku bisa bekerja full time d
Erika meremas tali tasnya semakin erat seiring mobil mewah Martin melaju semakin jauh dari rute kafenya. Kecepatan mobil yang stabil namun pasti seolah menegaskan bahwa pria di sampingnya tidak terbiasa menerima penolakan. Jalanan kota yang padat perlahan berganti menjadi deretan pepohonan rindan







