Mata Erika terbelalak di tengah keremangan kamar ketika bibir Martin menyentuh bibirnya. Sentuhan itu tidak kasar, melainkan sebuah tekanan yang dalam, menuntut, dan penuh dominasi. Dada Erika berdesir hebat. Ini adalah sentuhan pertamanya, dan itu diambil oleh pria yang seharusnya ia hormati. Rasa bersalah yang hebat sempat menghantam dada Erika, membuatnya mencoba mendorong bahu bidang pria itu. Namun, Martin justru menangkap kedua pergelangan tangan Erika dengan satu tangan besarnya, menguncinya di atas kepala dengan mudah. Ciuman Martin berubah menjadi lebih intens, seolah menghukum penolakannya. Lidah Erika kelu, seluruh persendiannya mendadak lumpuh saat ciuman itu turun ke rahang, lalu beralih ke lehernya yang terekspos bebas. "Ah..." lenguhan bodoh itu lolos begitu saja dari mulut Erika saat bibir dan jambang tipis Martin yang kasar bergesekan dengan kulit lehernya yang sensitif. Sentuhan itu terasa begitu membakar, menyulut hasrat yang tidak pernah Erika ketahui k
Read more