“Selamat pagi, Wendy… kangen aku, nggak?”“Iya.” Aku bersandar pada wastafel, suaraku terdengar agak serak seperti orang yang baru bangun tidur setelah mabuk.“Kamu kenapa? Suaramu aneh sekali, kamu lagi flu?”“Nggak, aku baru… saja bangun tidur.”“Dasar pemalas,” candanya sambil tertawa. Dengan nada memanjakan, dia melanjutkan, “Kerjaanku di sini sudah selesai, aku sudah bisa pulang besok. Nanti aku mau nilai baik-baik bagaimana hasil latihan renangmu.”Seketika, jantungku menegang.Nilai hasil latihan?Bagaimana aku menunjukkan hasilnya?Aku tak hanya belajar berenang, tapi juga belajar… mengkhianatinya.Setelah menutup telepon, aku menatap sosok asing di dalam cermin dan tiba-tiba rasa panik yang luar biasa menyerangku.Sebuah permainan pasti akan ada akhirnya.Dan sepertinya, aku sudah tak sanggup lagi menanggung resikonya.….Sepanjang hari, pikiranku benar-benar tak tenang.Setelah Roni kembali, dia tampaknya juga menyadari perubahan sikapku.Dia tak sembarang menyentuhku seperti
閱讀更多