مشاركة

Bab 3

مؤلف: Liam
Namun, kedua kakiku sudah kehilangan tenaga akibat rasa takut dan emosi asing lainnya. Kakiku lemas seperti seutas tali dan begitu melepaskan tumpuan darinya, seluruh tubuhku langsung tenggelam ke dalam air.

"Aah!"

Aku menjerit kaget dan reflek memeluknya kembali dengan erat, seperti orang tenggelam yang berusaha meraih penyelamat.

Roni tertawa pelan. Suara tawanya bergetar dari dalam dada, merambat melalui kulit kami yang saling menempel hingga masuk ke dalam tubuhku, membuatku merasakan sensasi menggelitik.

"Sepertinya kamu sangat suka posisi ini." Satu tangannya melingkari pinggangku untuk mencegahku merosot, sementara tangannya yang lain mulai mengelus punggung mulusku dengan nakal. Ujung jarinya menyusuri tali baju renangku yang saling menyilang, perlahan bergerak turun, menjelajahi bagian dalam celah tulang belakangku.

Sensasi geli itu terasa seperti belaian bulu sekaligus sengatan listrik, membuatku tak bisa menahan diri untuk meringkukkan badan.

"Bu... bukan begitu...." bantahku dengan malu dan kesal luar biasa, suaraku pelan nyaris tak terdengar.

"Mulutmu bilang nggak mau, tapi tubuhmu sangat jujur," ujarnya tanpa ampun langsung membongkar kepura-puraanku. Tangannya terus bergerak semakin bebas, lalu berhenti di belahan bokongku. Ujung jarinya mulai meraba ke dalam.

Seluruh tubuhku gemetar. Sebuah sensasi ngilu yang sulit dijelaskan langsung melesat dari tulang ekor menuju ke ubun-ubun.

Aku merasa diriku seperti seekor keong yang sudah dikupas cangkangnya, bagian paling lunak dalam diriku dengan mudah dicungkil, terpampang di hadapannya dan siap dinikmati olehnya.

"Kamu... lepaskan aku!" Aku mengerahkan sisa seluruh tenagaku untuk mendorongnya.

Kali ini, dia malah menurut dan melepaskan tangannya.

Namun, belum sempat merasa lega, kakiku malah terpeleset dan kembali kehilangan keseimbangan.

Rasa tersedak air dan kepanikan yang kukira akan terjadi ternyata tak kunjung datang.

Dia kembali menahanku. Hanya saja, dia bukan memelukku dari depan kali ini, melainkan membalikkan tubuhku, membuatku membelakanginya.

Punggungku menempel erat pada dadanya yang panas membara. Salah satu lengannya melintang di dadaku, mengunciku dengan erat, sementara tangannya yang lain melingkar dari bawah, menangkup perutku yang rata.

Posisi ini terasa jauh lebih berbahaya daripada yang tadi.

Aku merasa seperti mangsa yang sepenuhnya berada di bawah kendali cengkeramannya, tanpa ada kemampuan untuk melawan sedikitpun.

"Aku ajarkan gerakan pertama, yaitu mengapung." Bibirnya menempel di telingaku, hembusan napasnya yang hangat membuat daun telingaku terasa geli, dia melanjutkan, "Rilekskan seluruh tubuhmu, serahkan tubuhmu pada air, serahkan... dirimu padaku."

Sambil berbicara, tangannya yang menangkup perutku mulai memberikan dorongan perlahan, membawa tubuhku untuk terlentang ke belakang perlahan-lahan.

Kepalaku bersandar di lekukan bahunya. Pandanganku melihat langit-langit gedung kolam renang yang tinggi dan sorot lampu yang menyilaukan.

Tubuhku perlahan membentang rileks di dalam kolam. Rasa takut akan tenggelam yang tadi melanda, kini terusir oleh lengannya yang kuat dan dadanya yang hangat. Rasa takut itu tergantikan oleh sebuah sensasi mengapung yang luar biasa dan belum pernah kurasakan sebelumnya.

"Iya, benar begitu. Kamu sangat berbakat," pujinya dengan suara rendah, tapi lengannya malah mendekap semakin erat.

Lengannya melintang di dadaku membuat kedua gundukan lembut di dadaku tertekan hingga berubah bentuk.

Yang lebih parahnya lagi, seiring dengan tubuhku yang mengapung, celana renang di bagian bawah tubuhku sepertinya agak bergeser. Bagian tubuhnya yang keras dan panas kini tepat berada di sana... menekan di antara kedua belahan bokongku tanpa melesat sedikitpun.

Riak air bergelombang, membawa tubuh kami berdua ikut bergerak naik turun perlahan.

Setiap kali ada pergerakan naik turun, terjadi gesekan yang terasa begitu mematikan.

Aku menggigit bibir erat-erat. Keringat dingin dan air kolam bercampur menjadi satu, membuat diriku tak bisa membedakannya lagi. Kesadaranku terombang-ambing hebat di antara rasa terhina dan sebuah kenikmatan yang sulit dijelaskan.

Tepat pada saat itu, ponsel yang kuletakkan di dalam tumpukan pakaian di tepi kolam tiba-tiba berdering di waktu yang tidak tepat.

Itu nada dering khusus panggilan dari Jeff.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Gairah Terlarang Di Bus Wisata   Bab 11

    “Ayo sayang, perlihatkan hasil belajarmu padaku.”Dia berdiri di tepi kolam, menatapku dengan tatapan penuh harapan.Aku yang memakai baju renang terusan model tertutup, menarik napas dalam-dalam, lalu melompat ke dalam air.Air kolam yang dingin langsung menyelimuti tubuhku, tapi anehnya, rasa takut yang dulu biasa kurasakan tak muncul lagi.Aku berenang seperti seekor ikan, melesat bebas di dalam air.Ternyata, teknik-teknik yang diajarkan oleh Roni sudah terukir di dalam ingatan tubuhku.Aku berenang putaran demi putaran, hingga akhirnya kelelahan, baru muncul kembali ke permukaan air.“Wah! Wendy! Kamu hebat sekali!” puji Jeff sambil mengacungkan jempolnya ke arahku. “Kamu benar-benar mirip seperti putri duyung!”Aku bertumpu pada tepi kolam, menatap wajahnya yang tersenyum begitu ceria dengan perasaan yang campur aduk.Dia tak pernah tamu, apa yang telah kukorbankan demi bisa berenang.Tepat pada saat itu, dari sudut mata, aku menangkap sosok yang sangat familiar.Di ujung kolam

  • Gairah Terlarang Di Bus Wisata   Bab 10

    “Selamat pagi, Wendy… kangen aku, nggak?”“Iya.” Aku bersandar pada wastafel, suaraku terdengar agak serak seperti orang yang baru bangun tidur setelah mabuk.“Kamu kenapa? Suaramu aneh sekali, kamu lagi flu?”“Nggak, aku baru… saja bangun tidur.”“Dasar pemalas,” candanya sambil tertawa. Dengan nada memanjakan, dia melanjutkan, “Kerjaanku di sini sudah selesai, aku sudah bisa pulang besok. Nanti aku mau nilai baik-baik bagaimana hasil latihan renangmu.”Seketika, jantungku menegang.Nilai hasil latihan?Bagaimana aku menunjukkan hasilnya?Aku tak hanya belajar berenang, tapi juga belajar… mengkhianatinya.Setelah menutup telepon, aku menatap sosok asing di dalam cermin dan tiba-tiba rasa panik yang luar biasa menyerangku.Sebuah permainan pasti akan ada akhirnya.Dan sepertinya, aku sudah tak sanggup lagi menanggung resikonya.….Sepanjang hari, pikiranku benar-benar tak tenang.Setelah Roni kembali, dia tampaknya juga menyadari perubahan sikapku.Dia tak sembarang menyentuhku seperti

  • Gairah Terlarang Di Bus Wisata   Bab 9

    “Aku tunggu di luar.”Dia menutup pintu, meninggalkan diriku sendirian di dalam kamar mandi dengan suara gemercik air yang mengalir.Aku melepaskan pakaianku, menatap pantulan diriku di cermin. Wajahku tampak merona, mataku berkaca-kaca, sebuah pemandangan yang terasa begitu asing.Apakah ini masih Wendy yang polos dan bergengsi itu?Aku tak tahu.Satu-satunya hal yang kutahu adalah diriku sudah tak bisa kembali lagi seperti dulu.Aku melangkah masuk ke dalam bak mandi. Air hangat langsung menyelimuti seluruh tubuhku, melemaskan otot-ototku yang sempat menegang.Sambil memejamkan mata dan bersandar di pinggiran bak, kubiarkan pikiranku melayang ke mana-mana.Entah sudah berapa lama berlalu, tiba-tiba pintu kamar didorong terbuka.Roni melangkah masuk dengan hanya berbalut sehelai handuk mandi.Sepertinya dia sudah mandi, butiran air masih menempel di kulitnya yang sawo matang dan tubuhnya memancarkan aroma sabun yang segar.Tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia langsung berjalan mende

  • Gairah Terlarang Di Bus Wisata   Bab 8

    Di antara kami, hanya ada sekat selembar kaca yang tipis.Di bawah sana adalah area kolam renang yang ramai orang berlalu lalang.Cukup dengan mendongak, siapapun di bawah sana bisa melihat posisi kami yang begitu intim saat ini.Sensasi mendebarkan berada di tempat yang setengah terbuka seperti ini membuatku merasakan kegembiraan yang memabukkan.“Lihat aku.” Dia mencengkeram daguku, memaksaku untuk bertatapan dengannya.Di dalam matanya, ada kobaran api yang menyala-nyala, seolah siap menelan diriku seutuhnya.“Wendy, akui saja,” ucapnya penuh penekanan pada setiap kata.“Kamu menginginkanku sama seperti aku menginginkanmu, ‘kan?”Dia tak memberiku celah sedikitpun untuk membantah. Dia langsung menunduk dan menciumku.Itu sama sekali bukan ciuman yang lembut, melainkan ciuman yang liar dan penuh dominasi, bagaikan binatang buas yang sedang menerkam mangsanya.Dia membuka paksa gigiku, menyusup masuk semakin dalam, mengunci lidahku, lalu bersahutan dan menghisapnya dengan liar, seakan

  • Gairah Terlarang Di Bus Wisata   Bab 7

    Tubuhku seperti baru saja menyalakan sebuah sakelar, mulai bergejolak, mulai mendambakan sentuhan yang lebih nyata dan lebih intens.Jeff pun jadi semakin sering meneleponku.“Wendy, kakimu sudah lebih baik? Kangen denganku, nggak?”“Iya….”“Begitu pulang nanti, aku ajak kamu makan di restoran hotpot kesukaanmu.”“Boleh….”Jawabanku terasa semakin asal-asalan dan hatiku diselimuti perasaan bersalah yang luar biasa.Aku merasa diriku seperti seorang wanita tak tahu malu. Di satu sisi menikmati kasih sayang dari pacarku, tapi di sisi lain malah membayangkan pria lain.Di hari kelima, cedera kakiku sudah hampir sembuh.Aku menatap notifikasi jadwal kelas dari klub renang ‘Sunny’ di ponselku, lalu bimbang cukup lama.Pergi atau tidak?Logikaku mengatakan bahwa aku harus segera mengajukan pengembalian dana, lalu memutuskan hubungan sepenuhnya dengan pria berbahaya itu sekarang juga.Namun, sebuah suara dari tubuhku malah menjerit, ‘Pergi temui dia! Kamu membutuhkannya!’Pada akhirnya, hasra

  • Gairah Terlarang Di Bus Wisata   Bab 6

    “Ro… Roni!” Entah kenapa, aku memanggilnya tiba-tiba.Dia menghentikan langkahnya, tapi tak menoleh.“Aku… aku bohong.” Suaraku sangat pelan seperti dengungan nyamuk, “Aku belum kasih tahu ke dia… kalau kakiku terkilir.”Dia tetap diam saja.Sudut mataku mulai memerah, seketika rasa bersalah dan malu bercampur aduk.Apa sebenarnya yang kulakukan?Kok aku harus menjelaskan hal seperti ini pada pria berbahaya itu?Tepat saat aku berniat untuk menyerah dan berbalik untuk pulang naik taksi sendiri, tiba-tiba dia membalikkan badan.Hanya dengan beberapa langkah saja, dia sudah berada di hadapanku. Tanpa sepatah katapun, dia kembali menggendongku.“Aah!” Aku menjerit kaget dan langsung reflek mengalungkan lenganku di lehernya.“Kalau lain kali masih berani membohongiku….” Dia menunduk menatapku dengan tatapan yang membara dan dengan suara serak, dia melanjutkan, “Hukumannya nggak akan sesederhana digendong seperti ini.”Mobilnya adalah range rover hitam. Persis seperti pemiliknya, mobilnya m

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status