เข้าสู่ระบบ“Ayo sayang, perlihatkan hasil belajarmu padaku.”Dia berdiri di tepi kolam, menatapku dengan tatapan penuh harapan.Aku yang memakai baju renang terusan model tertutup, menarik napas dalam-dalam, lalu melompat ke dalam air.Air kolam yang dingin langsung menyelimuti tubuhku, tapi anehnya, rasa takut yang dulu biasa kurasakan tak muncul lagi.Aku berenang seperti seekor ikan, melesat bebas di dalam air.Ternyata, teknik-teknik yang diajarkan oleh Roni sudah terukir di dalam ingatan tubuhku.Aku berenang putaran demi putaran, hingga akhirnya kelelahan, baru muncul kembali ke permukaan air.“Wah! Wendy! Kamu hebat sekali!” puji Jeff sambil mengacungkan jempolnya ke arahku. “Kamu benar-benar mirip seperti putri duyung!”Aku bertumpu pada tepi kolam, menatap wajahnya yang tersenyum begitu ceria dengan perasaan yang campur aduk.Dia tak pernah tamu, apa yang telah kukorbankan demi bisa berenang.Tepat pada saat itu, dari sudut mata, aku menangkap sosok yang sangat familiar.Di ujung kolam
“Selamat pagi, Wendy… kangen aku, nggak?”“Iya.” Aku bersandar pada wastafel, suaraku terdengar agak serak seperti orang yang baru bangun tidur setelah mabuk.“Kamu kenapa? Suaramu aneh sekali, kamu lagi flu?”“Nggak, aku baru… saja bangun tidur.”“Dasar pemalas,” candanya sambil tertawa. Dengan nada memanjakan, dia melanjutkan, “Kerjaanku di sini sudah selesai, aku sudah bisa pulang besok. Nanti aku mau nilai baik-baik bagaimana hasil latihan renangmu.”Seketika, jantungku menegang.Nilai hasil latihan?Bagaimana aku menunjukkan hasilnya?Aku tak hanya belajar berenang, tapi juga belajar… mengkhianatinya.Setelah menutup telepon, aku menatap sosok asing di dalam cermin dan tiba-tiba rasa panik yang luar biasa menyerangku.Sebuah permainan pasti akan ada akhirnya.Dan sepertinya, aku sudah tak sanggup lagi menanggung resikonya.….Sepanjang hari, pikiranku benar-benar tak tenang.Setelah Roni kembali, dia tampaknya juga menyadari perubahan sikapku.Dia tak sembarang menyentuhku seperti
“Aku tunggu di luar.”Dia menutup pintu, meninggalkan diriku sendirian di dalam kamar mandi dengan suara gemercik air yang mengalir.Aku melepaskan pakaianku, menatap pantulan diriku di cermin. Wajahku tampak merona, mataku berkaca-kaca, sebuah pemandangan yang terasa begitu asing.Apakah ini masih Wendy yang polos dan bergengsi itu?Aku tak tahu.Satu-satunya hal yang kutahu adalah diriku sudah tak bisa kembali lagi seperti dulu.Aku melangkah masuk ke dalam bak mandi. Air hangat langsung menyelimuti seluruh tubuhku, melemaskan otot-ototku yang sempat menegang.Sambil memejamkan mata dan bersandar di pinggiran bak, kubiarkan pikiranku melayang ke mana-mana.Entah sudah berapa lama berlalu, tiba-tiba pintu kamar didorong terbuka.Roni melangkah masuk dengan hanya berbalut sehelai handuk mandi.Sepertinya dia sudah mandi, butiran air masih menempel di kulitnya yang sawo matang dan tubuhnya memancarkan aroma sabun yang segar.Tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia langsung berjalan mende
Di antara kami, hanya ada sekat selembar kaca yang tipis.Di bawah sana adalah area kolam renang yang ramai orang berlalu lalang.Cukup dengan mendongak, siapapun di bawah sana bisa melihat posisi kami yang begitu intim saat ini.Sensasi mendebarkan berada di tempat yang setengah terbuka seperti ini membuatku merasakan kegembiraan yang memabukkan.“Lihat aku.” Dia mencengkeram daguku, memaksaku untuk bertatapan dengannya.Di dalam matanya, ada kobaran api yang menyala-nyala, seolah siap menelan diriku seutuhnya.“Wendy, akui saja,” ucapnya penuh penekanan pada setiap kata.“Kamu menginginkanku sama seperti aku menginginkanmu, ‘kan?”Dia tak memberiku celah sedikitpun untuk membantah. Dia langsung menunduk dan menciumku.Itu sama sekali bukan ciuman yang lembut, melainkan ciuman yang liar dan penuh dominasi, bagaikan binatang buas yang sedang menerkam mangsanya.Dia membuka paksa gigiku, menyusup masuk semakin dalam, mengunci lidahku, lalu bersahutan dan menghisapnya dengan liar, seakan
Tubuhku seperti baru saja menyalakan sebuah sakelar, mulai bergejolak, mulai mendambakan sentuhan yang lebih nyata dan lebih intens.Jeff pun jadi semakin sering meneleponku.“Wendy, kakimu sudah lebih baik? Kangen denganku, nggak?”“Iya….”“Begitu pulang nanti, aku ajak kamu makan di restoran hotpot kesukaanmu.”“Boleh….”Jawabanku terasa semakin asal-asalan dan hatiku diselimuti perasaan bersalah yang luar biasa.Aku merasa diriku seperti seorang wanita tak tahu malu. Di satu sisi menikmati kasih sayang dari pacarku, tapi di sisi lain malah membayangkan pria lain.Di hari kelima, cedera kakiku sudah hampir sembuh.Aku menatap notifikasi jadwal kelas dari klub renang ‘Sunny’ di ponselku, lalu bimbang cukup lama.Pergi atau tidak?Logikaku mengatakan bahwa aku harus segera mengajukan pengembalian dana, lalu memutuskan hubungan sepenuhnya dengan pria berbahaya itu sekarang juga.Namun, sebuah suara dari tubuhku malah menjerit, ‘Pergi temui dia! Kamu membutuhkannya!’Pada akhirnya, hasra
“Ro… Roni!” Entah kenapa, aku memanggilnya tiba-tiba.Dia menghentikan langkahnya, tapi tak menoleh.“Aku… aku bohong.” Suaraku sangat pelan seperti dengungan nyamuk, “Aku belum kasih tahu ke dia… kalau kakiku terkilir.”Dia tetap diam saja.Sudut mataku mulai memerah, seketika rasa bersalah dan malu bercampur aduk.Apa sebenarnya yang kulakukan?Kok aku harus menjelaskan hal seperti ini pada pria berbahaya itu?Tepat saat aku berniat untuk menyerah dan berbalik untuk pulang naik taksi sendiri, tiba-tiba dia membalikkan badan.Hanya dengan beberapa langkah saja, dia sudah berada di hadapanku. Tanpa sepatah katapun, dia kembali menggendongku.“Aah!” Aku menjerit kaget dan langsung reflek mengalungkan lenganku di lehernya.“Kalau lain kali masih berani membohongiku….” Dia menunduk menatapku dengan tatapan yang membara dan dengan suara serak, dia melanjutkan, “Hukumannya nggak akan sesederhana digendong seperti ini.”Mobilnya adalah range rover hitam. Persis seperti pemiliknya, mobilnya m







