“Iya, bener apa kata Neng Ai. Kita di sini bareng bareng, dan ngga ada yang boleh saling lempar kesalahan meski itu untuk diri sendiri. Kalau pun ada yang harus disalahin, itu Pakde.”Mereka langsung arahkan pandangan Danu dengan tatapan sendu.“Pakde juga ngga boleh gitu. Kita akan cari Vy sama sama, dan setidaknya kita tahu apa alasan dia pergi dari kost saat ini,” balas Amy padanya.“Ya, Pakde. Nanti kalau Pakde stres lagi, sakit lagi, repot lagi. Pakde tenang aja, ya?” ucap Ane padanya, sedikit menghibur.Danu mengangguk dengan lesu saat itu. Mereka bubar untuk siapkan sarapan bersama, dan untungnya masih ada bahan di kulkas meski seadanya dan mereka masak.Sarapan mereka juga tenang, sesekali tanya jawab tentang agenda masing masing hari ini.“Ai nanti pulangnya agak malem. Soalnya mas Darma pulang,” ucap Ai pada mereka.“Ciyee, ketemuan sama ayang. Uhuy!” ledek Ane.“Ya, dia sekarang di cabang. Kami jarang ketemu, tapi dengan begitu, kami bisa saling rindu.” Ainun mengedikan ba
Ler mais