Pakde, Masa Dia Terus, Aku Juga Mau

Pakde, Masa Dia Terus, Aku Juga Mau

last updateÚltima atualização : 2026-06-15
Por:  Er_SuAtualizado agora
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Classificações insuficientes
9Capítulos
8visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

"Pakde jangan sedih, ada kami yang akan selalu ada untuk Pakde, di sini." Bayu, 39 tahun, Bapak Kos yang ganteng, sabar, dan terlalu baik dengan semua orang. Termasuk dengan istrinya. Tapi, kebaikan itu dibalas pengkhianatan. Uang yang Bayu berikan untuk modal bisnis, ternyata dipakai istrinya untuk menyewa brondong. Yang membongkar rahasia itu bukanlah orang luar, tapi penghuni kosnya sendiri. 10 kamar, 6 wanita, dan 6 macam cara yang membuat Bayu sadar bahwa dia tidak sendiri. Awalnya mereka kasihan. Lama-lama, Bayu yang selalu ngayomi mereka, malah balik dilayani. Dari masakin sarapan, nyuci baju, sampai menemani

Ver mais

Capítulo 1

Bab 1 Pakde, Bude Selingkuh!

“Selamat pagi, Pakde. Rajin bener, pagi-pagi udah beberes.” Salah satu anak kost Melati menyapa Danu di pagi hari sambil berjalan keluar gerbang.

Danu tengah bersenandung sembari menyapu halaman kostnya tempatnya mencari nafkah. Ia sangat rajin saat bekerja, akrab juga dengan para penghuni kost yang semuanya adalah wanita.

Pria itu memang supel, baik dan ramah. Kadang suka membantu beberapa urusan anak kost yang sulit dikerjakan, baik yang memang berhubungan dengan fasilitas kamar atau yang lain.

“Wah, itu pakaian neng Ai, kok berantakan?” tatapnya, dan ia segera hampiri dan rapikan jemuran salah satu anak kostnya, takut jatuh dan justru kotor lagi nanti.

Pria itu sempat melirik jemuran ceker ayam yang berisi beberapa pakaian dalam dari para anak kost. Sudah diberi nama masing-masing dengan ukuran yang jelas berbeda-beda, serta berbagai model. Satu set berbahan satin, satu lagi bermotif renda dan yang lain beda lagi bahannya dengan berbagai bentuk dan warna.

“Walah, punya neng Susan, gede juga.” Pria itu sejenak mengagumi bra milik salah satu anak kostnya yang merupakan seorang janda muda.

“Eh! Apaan aku ini? Membayangkan sesuatu yang harusnya dibayangkan! Saru!” Danu mengibas wajahnya sendiri dengan telapak tangan, dan memilih lanjutkan pekerjaan yang lain daripada pikirannya semakin liar nanti.

“Pakde!” Suara seorang gadis terdengar memanggilnya sangat nyaring.

Gadis itu bernama Lily, salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas ternama di kota mereka dan juga adik tingkat Danu di kampus yang sama. Mereka cukup dekat.

Lily berlari dengan tergesa-gesa, napasnya memburu hingga dadanya terlihat naik turun dengan gerakan yang begitu teratur. 

Gadis memiliki tubuh yang proporsional, tinggi semampai itu hanya mengenakan sebuah baju tidur tipis, hingga memperlihatkan pakaian dalam yang kontras dengan warna baju tidur itu hingga terlihat tembus pandang.

“Kenapa kamu lari-lari gitu? Ndak kuliah, tah?” tanya Danu padanya.

“Eng-ngga, hari ini sudah konsul online tadi. Pakde, sibuk ngga?”

“Ngga juga, daritadi cuma nyapu terus duduk sambil manasin motor. Bude ngga ada, jadi santai.”

Mereka diam sejenak, dan Lily duduk di sebelah Danu sembari menggenggam Hp yang sejak tadi ia bawa. Ia tampak cemas, menggigit bibirnya sampai merah dengan wajah yang sangat ragu untuk mengatakan sesuatu.

“Ngapain lari-lari? Pakde kira ada sesuatu tadi.” Danu bertanya untuk yang kedua kali.

“Iya, memang ada sesuatu. Ada hal yang harus Lily sampaikan ke Pakde, dan ini sangat penting. Bude, pergi, ya? Sudah lama?” Lily malah balik bertanya, dan Danu lantas menatapnya hingga membuat gadis itu sedikit canggung.

“Iya, sejak kemarin sore itu perginya, belum pulang. Katanya ada pesanan cathering dengan teman-temannya. Mau teh, Nduk?” tawar Danu pada gadis itu.

 “Engga, Pakde, terimakasih. Tapi, Bu-Bude… Bude lagi--” Lily ragu untuk mengatakannya sampai ia menarik napas beberapa kali karena ragu.

“Kenapa? Kamu ada tahu sesuatu tentang bude, atau-“

"Pa-Pakde, aku mau ngomong. Ta-tapi... Pakde jangan marah ya? Plis, ini semua demi kebaikan Pakde, agar tidak terus dibohongi sama bude.”

 Danu kemudian duduk di samping Lily, seraya berucap halus. “Tenang aja, Lily, kamu cerita aja ke Pakde. Perihal Bude kan? Emangnya Bude kenapa?"

 "Ta-tapi Lily takut Pakde marah karena Lily cerita ini. Lily tahu Pakde sayang banget sama Bude. Pakde juga ngelakuin apapun buat Bude bahagia.  Tapi pas tahu ini, Lily –“

 Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Danu langsung menyela. "Nggak apa, Lily, jangan dipendam ya, daripada kamu sakit karena beban pikir. Apa yang mau kamu ceritakan sama Pakde? Coba ngomong pelan pelan," bujuk Danu dengan tenang.

“Pakde, bude ternyata tidak ngurus catering seperti yang Pakde katakan barusan dan bude justru pergi dengan laki laki lain ke Hotel!” Bibir mungil itu bicara dengan cepat tanpa jeda sangking bingungnya.

Danu terdiam. Ia menatap gadis itu dalam-dalam atas apa yang baru saja ia katakan. Jelas ia tak percaya.

Hingga pada akhirnya Lily buka Hp dan perlihatkan foto yang ia dapat dari temannya. "I-ini, Pakde....."

“Apa ini, Nduk? Kamu dapat foto ini dari mana? Nduk, bilang ke Pakde, ini di mana? Ini benar-benar Bude, kan?" Pria itu tak percaya jika ada yang di dalam foto itu adalah istrinya yang tengah saling rangkul dengan seorang pria muda.

Pria itu tak percaya jika ada yang di dalam foto itu adalah istrinya yang tengah saling rangkul dengan seorang pria muda. Karena ia pergi sejak sore kemarin adalah untuk mengurus bisnis katering yang ia buat bersama beberapa sahabat.

“Ini, di mana?” tanya Danu pada Lily yang masih ada di dekatnya.

Tenggorokan Danu tampak sangat tegang dengan rahang yang mengerutuk. Ia ingin marah, tapi tidak mungkin ia lampiaskan semuanya pada gadis yang ada di sampingnya itu. Lily justru baik telah memberi info ini

“Itu, di Hotel X, Pakde. Salah satu teman Lily kerja di sana, dan menemukan ini tadi pagi. Itu, yang sering main kesini. Makanya dia tahu, kalau itu adalah Bude Tina.”

 Danu meradang mendengar bahwa itu adalah loby hotel bintang empat. Foto mereka sangat mesra, hingga tak mungkin ada alasan bertemu dan saling menyapa tanpa sengaja. 

Tina tampak mengenakan dres pendek, menggelendot manja di lengan sang brondong. Brondong itu merangkulnya sangat erat. Telapak tangannya masuk ke sela dress Tina, seperti memegangi bagian dada. Mereka saling senyum seperti baru saja tengah mendapat kesenangan dari masing-masing, apalagi Tina yang senyumnya terlihat lepas dan sangat bahagia.

Tina, istri Danu semalam memang tak ada kabar. Ia fikir efek sibuk mengurus katering yang memang tengah berkembang belakangan.

Hp Lily memang retak layarnya, tapi gambar itu terlihat sangat jelas.

Sangking marahnya, Danu spontan angkat tangan dan mendaratkannya di bahu Lily. Ia cengkram dengan kuat karena emosi. Gadis itu tertunduk. Ia merasakan sakit, tapi ia berusaha untuk tetap tenang dan berharap bisa menenangkan Danu atas apa yang terjadi saat ini.

Mahasiswi semester tujuh itu, sering meminta Danu untuk membantu tugas dari kampus. Pertemuan dan obrolan yang sering terjadi, membuat Lily merasa nyaman padanya. Nada suara yang tak pernah tinggi, juga ketelatenannya ketika mengajari itu membuat Lily selama ini kagum bahkan menaruh perasaan padaya. Melihat Danu emosi, serasa tak tega.

Jemari lentik itu terus mengusap punggung tangan Danu dengan segala perhatian yang ia punya. Tapi satu tangan lagi menggeser layar Hp karena rupanya masih ada beberapa foto yang ia simpan di dalam memori Hpnya itu.

“Pakde, ngga cuma satu.” Gadis itu berbisik dengan suara yang begitu lembut.

Lebih mengejutkan lagi dengan foto kedua. Kali ini ini lebih vulgar karena istri Danu berpose semakin mesra di dalam mobil miliknya bersama brondong yang berbeda.

Dari foto itu, tampak Tina sedang berciuman dan saling membelit lidah dengan brondong keduanya. Semakin perih hati Danu melihat itu, dan bumi seolah berhenti berputar seketika.

“Apa salahku, Tin? Kenapa kamu begini ke aku?” Danu meratapi nasibnya sendiri saat itu. Suaranya tercekat, tapi ia malu ketika sadar yang di sebelahnya adalah seorang gadis.

Danu terduduk lemas. Hatinya benar-benar sakit melihat kelakuan sang istri yang semakin lama semakin melampaui batas. Ini baru beberapa, dan mungkin masih ada lagi di luar sana yang belum ia ketahui sampai saat ini.

“Ah! Uangku!” Mendadak Danu ingat jika ATM yang ia miliki dipegang oleh sang istri.

Danu segera raih Hp dan buka aplikasi perbankan yang ada di sana, lalu ia cek saldonya.

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sem comentários
9 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status