LOGINSetelah diselingkuhi istrinya, Pakde Danu akhirnya mendapat balasan dari penghuni kosnya. 10 gadis cantik, dan enam masih perawan! "Pakde kan sudah layani kami dengan baik, gantian kami yang layani Pakde, ya!"
View More“Selamat pagi, Pakde. Rajin bener, pagi-pagi udah beberes.” Salah satu anak kost Melati menyapa Danu di pagi hari sambil berjalan keluar gerbang.
Pakde Danu, begitulah anak-anak kos menyapanya, yang semuanya adalah wanita.
Pria itu memang supel, baik dan ramah. Kadang suka membantu beberapa urusan anak kost yang sulit dikerjakan, baik yang memang berhubungan dengan fasilitas kamar atau yang lain.
“Wah, itu pakaian neng Ai, kok berantakan?” tatapnya, dan ia segera hampiri dan rapikan jemuran salah satu anak kostnya, takut jatuh dan justru kotor lagi nanti.
Danu sempat melirik jemuran ceker ayam yang berisi beberapa pakaian dalam dari para anak kost. Semuanya, sudah diberi nama masing-masing dengan ukuran yang jelas berbeda-beda, serta berbagai model.
Satu set berbahan satin, satu lagi bermotif renda dan yang lain beda lagi bahannya dengan berbagai bentuk dan warna.
“Walah, punya neng Susan, gede juga.” Pria itu sejenak mengagumi bra milik salah satu bra milik anak kostnya yang merupakan seorang janda muda.
“Eh! Apaan aku ini? Membayangkan sesuatu yang harusnya dibayangkan! Saru!” Danu mengibas wajahnya sendiri dengan telapak tangan, dan memilih lanjutkan pekerjaan yang lain daripada pikirannya semakin liar nanti.
“Pakde!” Suara seorang gadis terdengar memanggilnya sangat nyaring.
“Eh! Semprul!” Danu tersentak kaget ketika salah satu anak kostnya menghampiri.
“Eh, Neng Amy.” Danu langsung menundukkan kepalanya malu malu.
Gadis itu menatap Danu dan pakaian dalam yang sempat Danu pegang tadi. Ia mendekat, tatapannya semakin intens pada bapak kostnya yang semakin gugup saat ia hampiri.
“Pakde, lihatin apa tadi?” tanya Amy.
“Ehm… Enggak, nggak ada pakde lihatin. Pakde cuma… cuma bantu benerin itunya neng Susan aja.” Wajah Danu terlihat tegang.
Tapi gadis bernama Amy itu justru tersenyum. “Pakde, rupanya kak Susan lumayan besar, ya?” ucap Ane tiba tiba.
“Heh, apanya yang besar?” Danu melotot dengan tatapan penuh tanya.
Amy kemudian raih bra milik Susan yang berbahan renda itu, dan ia lihat dadanya sendiri seolah membandingkan ukuran antara miliknya dan milik Susan.
“Punya Amy, sama punya kak Susan, besar yang mana?”
“Heh! Apaan kamu ini? Pagi pagi bahas itu.” Danu terlihat salah tingkah dan berusaha mengalihkan perhatian darinya.
Tapi mata itu masih curi curi pandang. Serba salah sekali posisi Danu kali ini, takut ketahuan ikut memperhatikan.
“Ya, heran dikit. Badan kak Susan ramping, tapi kok, gede?” tanya gadis itu.
“Mungkin karena janda. Pernah punya suami terus–”
“Sering dipegang sama dimainin?” celetuk gadis itu pada Danu.
“Heh!” Danu langsung melotot menatapnya.
“Jadi, bener? Kalau sering dipegang sama dimainin, jadi bisa lebih cepet gede?”
Danu menggaruk kepalanya yang mendadak gatal mendengar pertanyaan gadis itu. Terlalu sulit untuk ia jawab, karena takut salah jawab.
“Ka-kamu nggak kerja, toh?” tanya Danu.
“Ish, Pakde! Ini Amy sudah rapi, tandanya Amy mau berangkat lah.” Gadis itu memang sudah kenakan kemeja dan celana bahan rapi, dengan tas cantik yang menggantung di pundak.
“Lah, yowes kalau gitu. Berangkat kerja sana, nanti murid muridnya nyariin Bu Guru.” Danu mengusirnya pelan sembari merebut bra renda itu dari tangan Amy dan menjemurnya kembali.
“Yaudah, deh. Kalau gitu, Amy pergi dulu. Bye, Pakde!” seru gadis itu, yang kemudian berjalan menuju motornya.
Amy Guru TK yang ada di gang sebelah, dan dia termasuk salah satu Guru Favorit di sana.
Setelah Amy pergi, Danu kembali urus jemuran itu dan juga yang lain. Memang sebagai penjaga kost wanita, ada saja penampakannya yang bikin Danu geleng geleng kepala.
“Pakde! Pakde!!” Satu gadis memanggilnya dengan suara yang begitu keras.
Danu langsung menoleh, dan gadis itu juga segera lari mendekat padanya dengan begitu tergesa gesa.
Gadis itu berhenti tepat di hadapan Danu. Napasnya memburu hingga dadanya terlihat naik turun, membuat dua pepaya yang sedang mengkal itu terlihat bergerak dengan gerakan yang begitu teratur.
Gadis bertubuh proporsional dan tinggi semampai itu hanya mengenakan sebuah baju tidur tipis berenda, hingga memperlihatkan pakaian dalam yang kontras dengan warna baju tidur itu hingga terlihat tembus pandang.
Lari sebentar saja sudah ngos ngosan sampai berkeringat. Sampai menetes, mengalir dari leher lalu masuk ke dalam baju tidur melewati dadanya yang menonjol padat sekali.
“Kenapa kamu lari-lari gitu? Ndak kuliah, tah?” tanya Danu padanya.
“Eng-ngga, hari ini sudah konsul online tadi. Pakde, sibuk ngga?”
“Ngga juga, dari tadi cuma nyapu terus duduk sambil manasin motor Ane karena mau dipake. Bude nggak ada, jadi santai.” Danu menjawabnya juga dengan sangat santai.
Gadis itu bernama Lily, salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas ternama di kota mereka dan juga adik tingkat Danu di kampus yang sama. Mereka cukup dekat.
Mereka diam sejenak, dan Lily duduk di sebelah Danu sembari menggenggam Hp yang sejak tadi ia bawa. Ia tampak cemas, menggigit bibirnya sampai merah dengan wajah yang sangat ragu untuk mengatakan sesuatu.
“Ngapain lari-lari? Pakde kira ada sesuatu tadi.” Danu bertanya untuk yang kedua kali.
“Iya, memang ada sesuatu. Ada hal yang harus Lily sampaikan ke Pakde, dan ini sangat penting.” Gadis itu masih terlihat bingung di hadapan Danu.
“Bude, pergi, ya? Sudah lama?” Lily bertanya dengan mata melirik sekitar, dan Danu lantas menatapnya hingga membuat gadis itu sedikit canggung.
“Iya, sejak kemarin sore itu perginya, belum pulang. Katanya ada pesanan catering dengan teman-temannya. Mau teh, Nduk?” tawar Danu pada gadis itu.
Jemuran selesai, Danu berjalan menuju kursi rotan untuk menaruh keranjang dan Lily terus mengikutinya dari belakang.
“Engga, Pakde, terimakasih. Tapi, Bu-Bude… Bude lagi--” Lily ragu untuk mengatakannya sampai ia menarik napas beberapa kali karena ragu.
“Kenapa? Kamu ada perlu sama bude?” tanya Danu dengan begitu santai.
"Pa-Pakde, Lily mau ngomong. Ta-tapi... Pakde jangan marah ya? Plis, ini semua demi kebaikan Pakde, agar tidak terus dibohongi sama bude.” Gadis itu duduk perlahan wajahnya masih bingung untuk mengolah kata yang akan keluar dari bibirnya.
Danu kemudian duduk di samping Lily, seraya berucap halus. “Tenang aja, Lily, kamu cerita aja ke Pakde. Perihal Bude kan? Emangnya Bude kenapa?"
"Ta-tapi Lily takut Pakde marah karena Lily cerita ini. Lily tahu Pakde sayang banget sama Bude. Pakde juga ngelakuin apapun buat Bude bahagia. Tapi pas tahu ini, Lily –“
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Danu langsung menyela. "Nggak apa, Lily, jangan dipendam ya, daripada kamu sakit karena beban pikir. Apa yang mau kamu ceritakan sama Pakde? Coba ngomong pelan pelan," bujuk Danu dengan tenang.Tangan gadis itu gemetaran dengan Hp yang masih ia genggam dengan begitu erat. Gundukan pepaya mengkalnya juga ikut bergetar seirama dengan getaran tubuhnya sekarang.
Danu ambil alih sejak keadaan. Ia raihbahu Lily agar getarannya sedikit terjaga. Ia majukan wajahnya perlahan, memberi perhatian dan kontak mata yang hangat padanya agar suasana hati Lily menjadi sedikit tenang.
“Pakde, bude ternyata nggak ngurus catering seperti yang Pakde katakan barusan dan bude justru pergi dengan laki laki lain ke Hotel!” Bibir mungil itu bicara dengan cepat tanpa jeda sangking bingungnya.
“Hah? Kamu jangan bercanda, Nduk. Kalau ngerjain Pakde, mbok ya jangan gini. Ndak lucu, ah!” Danu tertawa kecil dan menganggap Lily hanya main main saja dengannya.
“Pakde, Lily nggak bohong. Lily mana mungkin jelekin bude di depan Pakde. Buat apa, coba?”
“Ta-tapi, budemu nggak akan gitu. Wong dia… dia bilang urus catering, kok. Enggak lah.” Danu berusaha menghindar dan masih tak percaya pada ucapan Lily padanya.
“Tapi, kalau Lily punya buktinya, gimana?”
Danu termangu menatap gadis itu. Ia masih tak percaya dengan apa yang Lily barusan katakan padanya, apalagi ini tentang istri yang paling ia cintai.
“Pakde masih nggak percaya sama Lily?” tanya gadis itu.
“Jujur, pakde masih—“
Lily langsung tunjuk bibir bapak kostnya itu agar tidak lanjutkan kata kata yang ia keluarkan. Dengan cepat, ia buka Hp dan perlihatkan foto yang ia dapat dari salah satu temannya pada Danu.
Terbelalak mata Danu menatap foto itu. Ia raih Hp Lily dengan kasar dan ia geser untuk melihat yang lainnya. Karena tidak hanya satu, tapi beberapa foto dengan pose mesra Tina bersama berondongnya.
“Apa ini, Nduk? Kamu dapat dari mana foto ini?” tanya Danu dengan suaranya yang terdengar gemetaran itu.
“Pak Danu! Ya ampun sampai keringetan gitu sangking kerasnya kerja.” Fatma datang lagi menghampiri Danu di gudang.Tapi kali ini, ia membawa sebuah kotak yang cukup besar dalam pelukannya. Kotak itu kemudian ia taruh di atas meja kerja Danu, lalu ia hampiri Danu untuk bersihkan keringat di wajah gantengnya itu.Danu terkesiap dengan perlakuan lembut gadis itu. Tangannya juga halus, senyumnya sangat menggoda imannya sebagai seorang lelaki yang sangat normal.“Itu, apa?” lirik Danu pada kotak yang tadi ia bawa.“Oh, itu. Tadi saya ke butik, terus lihat ada setelan kemeja dan celana yang bagus. Saya ingat kalau Bapak nanti malam mau ada acara, jadinya saya beliin.”“Loh, kok gitu?” Danu kaget dibuatnya.”Harusnya nggak usah, Bu. Saya banyak baju di rumah. Biarpun nggak sebagus baju yang Ibu kasih, tapi—”“Udah, Pak Danu santai aja. Di sana nanti akan banyak orang, dan mungkin mereka undang tamu lain yang juga akan ikut hadir. Jadi, nanti akan jadi kesempatan untuk Bapak juga cari relasi d
"Jadi, seperti itu, Dok? Baiklah, terimakasih." Ane segera pamit setelah ia mendapat semua jawaban itu.Dokter tersenyum dan mengangguk padanya. Sebagai pembimbing, ia suka dengan Mahasiswa yang rajin bertanya.Ane keluar dari tempat itu dan ia hela panjang napasnya. Tapi tak lega karena belum ada penyelesaian. Ia tak rela jika Danu menikah dengan Silvy, seperti yang lain."Wah, udah jam segini. Bentar lagi aku pulang," lirihnya, ketika menatap jam tangan.Kemudian Ane jalan ke pos jaga, untuk bereskan beberapa barangnya."Ane dari mana?" tanya salah satu senior."Ane dari ruangan Dokter, Kak. Ada yang harus Ane konsulkan.""Oh, kirain kemana. Bentar lagi pulang, beberes lah. Terimakasih karena sudah bantuin partus tadi. Kamu meski masih mahasiswa, tapi keterampilan kamu bagus banget." Senior itu memuji."Ah, Kakak. Itu kan, karena Kakak yang selama ini bimbing dengan keras juga. Kalau enggak, mungkin Ane masih jadi mahasiswa magang yang manja."Mereka yang ada di Rumah sakit itu mema
“Iya, Pakde. Kak Susan udah sempat mau kasih aja, tapi kami tahan. Nanti kalau ancur, Pakde yang jadi rugi banyak. Ini aja, dari hasil jual tanah yang selama ini pakde jagain.”Danu terharu sekali mendengar ucapan gadis itu, yang memang paham dengannya selama ini.“Ya, pakde paham. Terimakasih, ya. Kalian selama ini masih jagain pakde, dan dukung pakde.”“Iya, karena kami semua sayang pakde.” Lily membalasnya lagi.Tapi karena Danu harus lanjut bekerja lagi, mau tak mau panggilan itu harus diakhiri tanpa menunggu Susan datang. Danu harus segera kembali bekerja.“Kak!” Lily panggil Susan yang baru saja keluar dari kamarnya. Ia hampiri dan ia berikan Hp yang tertinggal tadi.“Ada yang nelpon, Dek?” Susan menatapnya penasaran, karena gadis itu lari dengan langkah yang tergesa gesa.“Pakde nelpon, nanyain perkembangan kerjaan kost. Kak Susan mau pergi?” Gadis itu menatap Susan yang terlihat sudah rapi dan cantik sekali. Dia juga sangat modis.“Iya, mau ke butik sebentar. Ada barang mau
Sesuai dengan apa yang Danu katakan, bahwa ia begitu sibuk untuk hari ini sampai ia tak bisa melirik Hp lagi. Semua pekerjaan di kost yang sudah ia serahkan pada Susan, itu sudah benar benar ia percayakan padanya.Danu fokus dengan pekerjaan karena ada pengiriman partai besar yang segera harus ia selesaikan.“Pak Danu, semuanya sudah?” tanya tim pengiriman padanya, diwakili seorang pria.“Sebentar lagi, Pak. Tinggal barang barang kecil saja, tadi baru saja disortir lagi untuk kualitasnya. Maklum, barang sudah agak lama.” Danu membalas seraya memberikan catatan pada pria itu secara lengkap..“Oh, oke. Saya tunggu setengah jam lagi, ya? Dan, ngomong ngomong apa kali ini Bapak ikut dalam pengiriman?” tanya pria bernama Jaka itu.“Untuk sekarang tidak, karena saya masih banyak pekerjaan lain. Tapi semua catatan lengkap. Jika ada sesuatu, bisa langsung hubungi saja nanti.” Danu memastikan jika Hpnya akan segera on untuk masalah pekerjaan yang penting.Ia juga pasti mulai kepikiran dengan y
“Apa kamu bilang, Mas? Kamu berani tolak aku, Mas?” tukas Tina pada suaminya itu.Wanita dengan tubuh cukup berisi tapi padat itu tampak meradang mendengar penolakan yang diberikan oleh sang suami. Wajahnya terlihat sangat marah dan tangannya mengepal sejak tadi.Saat tahu Tina akan masuk, Silvy m
Pagi harinya, Danu bangun dari tidur dengan tubuh yang sudah mendingan Untungnya para gadis itu merawatnya dengan sangat baik hingga sakit yang ia rasakan tidak semakin menjadi.Sejak meminum obat yang diberikan oleh Ane tadi malam, ia tenang dan tidur sangat nyenyak. Hingga saat bangun, ia juga l
Danu mengangkat kedua tangannya saat itu, berusaha untuk tak balik memeluk Amy yang tengah ketakutan. Ia menarik napas beberapa kali sembari terus melirik kanan kiri.Entah bagaimana Danu harus menyikapi hal ini. Harusnya ia sedih, tapi justru mendapat rejeki nomplok. Bergemuruh di hati Danu. Takut
“Pakde, kami berangkat kerja dulu, ya!” Dua gadis cantik lewat dengan motornya, berboncengan, yang seketika membuat suasana warkop jadi heboh.Silvy dan Amidya. Gadis manis itu sama-sama merantau cukup jauh dari Daerah asal, dan orang tua mereka bahkan sempat datangi Danu untuk menitipkan keduanya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews