"Katakan kamu milikku." Suara Bayu rendah, berat, tapi tidak mengancam. Matanya menatap Selin dalam-dalam, menunggu. Selin menghela napas, sudut bibirnya naik tipis. "Aku... aku milikmu." Bayu menggeleng pelan. "Katakan kamu hanya milikku malam ini." Selin menatapnya, lalu dengan napas memburu, dia berteriak, "AKU HANYA MILIKMU MALAM INI!" Itu seperti tombol yang ditekan. Bayu langsung meluncurkan gerakannya—lebih cepat, lebih dalam, lebih membabi buta. Selin menjerit, tubuhnya mulai gemetar. Puncaknya sudah di ujung jari. "SEKARANG!" teriak Selin. Bersamaan dengan itu, Bayu melepaskan semuanya. Deras, hangat, membanjiri Selin dari dalam. Selin menjerit panjang—bukan kesakitan, tapi kelegaan yang meledak-ledak. Tubuhnya kejang, orgasme yang begitu kuat sampai membuatnya lupa bernapas. Bayu tetap bertahan, terus menghantam sampai tetes terakhir, lalu ambruk di atas tubuh Selin dengan napas tersengal. Mereka berbaring diam. Keringat bercampur. Udara panas. Hanya suara napas yan
Leer más