“Istriku cuma satu. Anna. Dan tidak akan tergantikan. Kalau Mama ingin aku menikahi Nadia, harusnya sepuluh tahun yang lalu. Sebelum aku mengenal Anna. Saat ini, aku menganggap Nadia hanya seorang dokter. Tidak lebih. Teman … mungkin.”Darah Manda mendidih. Matanya melotot tajam, sampai merah. “Apa kamu bilang? Beraninya bicara seperti itu sama Mama! Kalau bukan karena Oma, Mama juga nggak sudi punya menantu seperti Anna. Wanita parasit! Keluarganya apalagi! Cuih! Ingat wajahnya saja bikin Mama mual!” Tangan Manda melayang dan hendak kembali memukul Arga. “Tante, tenang, Tante! Jangan pakai kekerasan, aku mohon.” Tetapi Nadia memegangi tangan Manda itu.“Lepas, Nadia! Biar Tante hajar anak nggak tahu diri ini!” Manda mencoba melepaskan kekangan tangan Nadia.“Tante, ingat jantung Tante. Arga cuma sedang kalut, tolong dengarkan aku dulu,” bujuk Nadia lagi.Manda akhirnya menurunkan tangannya, lalu menunjuk wajah Arga dengan napas terengah-engah. “Kamu jangan selalu membela anak ini,
閱讀更多