Pagi, ini. Anna duduk bergeming di depan kanvas besar yang terpasang pada easel kayu di tengah studio lukis pribadinya. Sketsa potret pernikahan antara Arga dan Nadia, sudah dalam tahap enam puluh persen.Meskipun Arga kemarin mengatakan telah membatalkan pernikahan itu, Anna memilih untuk tetap bersikap profesional. Proyek ini sudah dia setujui, dan dia menolak untuk mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaannya sebagai pelukis. Entah apa motif pemesan, pekerjaannya hanya perlu menyelesaikan pesanan, selalu mendapat imbalan.Kini, Anna mulai mengayunkan kuasnya, pada bagian guratan wajah Arga. Gerakan tangannya mendadak melambat. Dia menatap kosong ke arah mata sketsa Arga, lalu merasakan denyut nyeri di dadanya.‘Mengapa takdir selalu memaksaku untuk menatap wajah ini. Dalam ilusi, dalam mimpi, bahkan dalam bentuk goresan cat?’ batin Anna, menahan napas sejenak, mengusir rasa sesak yang mulai mendominasi batinnya.Derit halus kursi roda membuat wanita itu kembali terjaga. Kay
Read more