#RETAKAN keduaMereka mengakhiri doa hampir bersamaan. Ibunya masih bertahan di depan pusara, merapikan bunga-bunga yang berserakan sambil mengusap lembut batu nisan yang mulai ditumbuhi lumut tipis, seolah sentuhan itu mampu menghubungkannya kembali dengan suami yang telah lama pergi. Sementara itu, Arga berdiri beberapa langkah di belakang, memandangi nama ayahnya yang terukir jelas di atas batu nisan sederhana itu.Ia berusaha mengingat sosok yang pernah menjadi panutannya. Wajah ayahnya, senyum yang selalu menyambutnya setiap pulang sekolah, juga suara hangat yang dahulu begitu akrab di telinganya. Namun semakin keras ia memaksa ingatan itu muncul, semakin kosong pula pikirannya. Yang tersisa hanyalah bayangan samar tanpa bentuk, seolah seluruh kenangan itu perlahan terkikis oleh sesuatu yang tidak mampu ia jelaskan.Perasaan gelisah mulai memenuhi dadanya. Anehnya, kegelisahan itu bukan lahir karena rasa kehilangan, melainkan karena muncul dorongan yang begitu kuat untuk segera
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-07-20 อ่านเพิ่มเติม