Mag-log inAku hanyalah seorang petugas kebersihan hotel yang tidak pernah dianggap siapa pun. Hingga suatu malam, aku menemukan sebuah parfum tua berwarna biru safir yang tersembunyi di ruang penyimpanan. Satu semprotan. Dan hidupku berubah. Wanita-wanita yang dulu mengabaikanku mulai mendekat. Direktur muda hotel yang dingin, selebgram terkenal, hingga wanita-wanita yang mustahil kuraih kini berebut berada di sisiku. Parfum itu memberiku kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan yang selama ini kuimpikan. Namun setiap kali aku menggunakannya, suara seorang pria tua selalu berbisik dari dalam cermin. "Nikmati semuanya... karena sebentar lagi tubuhmu akan menjadi milikku." Saat menyelidiki asal-usul parfum tersebut, aku menemukan fakta mengerikan: Aku bukan pewaris pertama. Dan semua pemilik sebelumnya berakhir sebagai monster.
view more#Kamar 1313
"Kalau kerjaannya cuma melamun, kapan selesainya?!" Bentakan Supervisor Frans menggema di koridor hotel, merusak ketenangan siang itu. Arga yang sedang mendorong troli kebersihan langsung tersentak. Beberapa staf menoleh, sebagian besar menyeringai mengejek. "Wajar saja kamu miskin terus!" lanjut Frans berapi-api. "Kerja lambat, otak juga lambat!" Tangan Arga mengepal kuat pada besi troli hingga buku jarinya memutih. Kalau aku tidak butuh uang, aku pasti sudah meninju wajah manajer sialan ini sekarang juga! Rahangnya mengeras saat batinnya merutuk. Kenapa harus aku yang dilahirkan miskin? Dua tahun sudah ia bertahan sebagai cleaning service di Hotel Grand Meridian. Selama itu pula nasibnya tak pernah berubah. Gaji pas-pasan habis untuk kontrakan sempit dan tagihan yang selalu datang lebih cepat daripada tanggal gajian. Namun, beban terberatnya adalah biaya pengobatan ibunya di kampung. Ponsel di sakunya bergetar, memunculkan nama yang membuat dadanya kian sesak, Ibu. Arga bergegas mengangkatnya. "Halo, Bu." "Ga..." suara lemah ibunya terdengar parau. "Dokter bilang obat bulan ini harus segera ditebus." Jantung Arga serasa diremas kuat. "Berapa, Bu?" "Dua juta lima ratus." Arga memejamkan mata rapat-rapat. Tabungannya saat ini bahkan tidak sampai setengah dari nominal itu. "Jangan dipikirkan dulu, Bu. Arga pasti cari jalannya." "Jangan memaksa diri, Nak." "Iya, Bu." Setelah panggilan terputus, Arga menatap nanar layar ponselnya yang menggelap. Angka itu bagai gunung yang mustahil didaki. "Heh! Jangan main HP saat kerja!" bentak Frans yang kembali mendekat. Arga buru-buru mengantongi ponselnya. "Maaf, Pak." Frans mendengus jijik lalu melenggang pergi. Belum sempat Arga mengatur napas, sebuah suara ketus terdengar dari arah belakang. "Permisi." Arga menoleh. Seorang wanita muda berpenampilan mewah berdiri di depan lift. Tas bermerek melingkari bahunya, memancarkan aroma parfum mahal yang menusuk hidung. "Maaf, Mbak." Arga segera menggeser trolinya ke tepi. Namun wanita itu justru mengernyit sinis. "Hotel ini makin turun kualitasnya. Cleaning service dibiarkan berdiri di tengah jalan seperti pengemis." Beberapa tamu yang lewat seketika menoleh. Wajah Arga memanas karena malu, namun ia hanya bisa menundukkan kepala. Wanita itu pergi tanpa memedulikan perasaannya. Hari ini benar-benar terasa menyebalkan. Menjelang sore, sebagian besar staf mulai bersiap pulang. Arga baru saja merapikan peralatan kerjanya ketika sebuah kartu akses plastik melayang dan mengenai dadanya. "Cek kamar 1313," perintah Frans yang tiba-tiba berdiri di depannya dengan tangan merengkuh saku. Arga mengernyit. "Kamar 1313?" "Tamunya tidak keluar tiga hari, Telepon tidak diangkat, bahkan layanan kamar selalu ditolak." Arga melirik jam tangannya yang usang. "Tapi kenapa saya, Pak? Ini sudah waktunya saya pulang." "Ya karena cuma kamu yang mau lembur tanpa dibayar!" Arga mengerutkan dahi. "Saya tidak pernah bilang mau lembur gratis, Pak." "Lalu siapa yang mau membiayai obat ibumu?" Frans melangkah mendekat, berbisik mengancam. "Dengar, kalau kamu menolak, silakan berhenti kerja sore ini juga. Gampang, kan?" Tangan Arga kembali mengepal. Kalau aku kaya, orang bajingan ini sudah kuhajar. Namun, realitas menamparnya. Ia sangat membutuhkan pekerjaan ini. Arga akhirnya menunduk pasrah. "...Baik, Pak." "Nah, begitu dong," Frans menepuk bahunya meremehkan. "Sekarang cepat periksa." Arga mengambil kartu akses tersebut. Firasat buruk mendadak menyergap dadanya saat memandangi angka kembar di kartu itu. 1313. Koridor menuju kamar itu terasa jauh lebih sunyi dibanding area hotel lainnya. Lampu dinding memancarkan cahaya kekuningan temaram, menciptakan kesan suram yang mencekam. Di depan pintu, tanda "Jangan Diganggu" masih tergantung kaku. Arga menarik napas dalam-dalam, lalu menempelkan kartu akses ke panel. Pintu terbuka perlahan, memicu derit halus yang menegangkan. "Permisi..." panggil Arga. Tidak ada jawaban. Ruangan itu sangat sunyi dan gelap gulita. Arga melangkah masuk, lalu seketika aroma apek bercampur hawa lembap menusuk penciumannya. Sepasang matanya menyapu seluruh ruangan, hingga akhirnya pandangannya terpaku pada ranjang. Tubuhnya seketika membeku. Seorang pria tua terbaring kaku di sana. Tidak bergerak, tidak bernapas, dengan kulit pucat yang mengerikan, Mayat. "Sialan..." Arga mengumpat lirih. Jantungnya berdegup kencang akibat rasa takut yang luar biasa. Tangannya refleks merogoh saku untuk menghubungi manajemen hotel. Namun, sebelum jemarinya menyentuh layar, sebuah benda di bawah ranjang mendadak menarik perhatiannya. Sebuah kotak kayu tua tergeletak di sana, tampak mencolok di antara interior kamar yang mewah. Permukaannya dipenuhi ukiran aneh yang tertutup debu tebal. Rasa penasaran tiba-tiba mengalahkan akal sehatnya. Arga berlutut, lalu menarik kotak itu keluar. Debu beterbangan saat kotak itu bergeser. "Barang antik?" gumamnya. Perlahan, Arga membuka pengait logamnya. Seketika aroma harum yang sangat pekat menyeruak, memenuhi seluruh penjuru ruangan. Wanginya sangat asing, mewah, dan entah bagaimana terasa seolah-olah memiliki kehidupan. Di dalam kotak beludru merah itu, terdapat tiga benda: sebuah botol parfum kaca hitam legam, buku harian tua bersampul kulit, dan sebuah kunci perak kebiruan yang berkilau samar. Arga meraih botol parfum hitam itu. Permukaannya terasa sangat dingin, sensasi ekstrem yang tidak wajar karena pendingin ruangan kamar itu mati. Begitu kulitnya bersentuhan dengan botol kaca tersebut, rasa dingin menjalar cepat ke seluruh lengannya, membuat tubuhnya mendadak tegang. Pada detik yang sama, firasat mengerikan menyergap batinnya. Ia merasa seolah-olah ada seseorang yang sedang berdiri tepat di belakang punggungnya, mengawasi setiap gerakannya. Dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipis, Arga memutar tubuhnya perlahan. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Ruangan itu kosong, hanya ada jenazah pria tua yang membisu di atas ranjang. Arga menelan ludah dengan susah payah, berusaha menenangkan debaran dadanya. "Mungkin aku hanya terlalu tegang..." bisiknya menepis ketakutan. Namun, tepat ketika ia hendak mengembalikan botol tersebut, sebuah suara berat dan dingin mendadak menggema. Suara itu tidak terdengar dari sudut ruangan, melainkan bergaung langsung di dalam pusat kepalanya. "Akhirnya..." Seluruh bulu kuduk Arga berdiri tegak seketika. Sistem sarafnya lumpuh akibat rasa ngeri yang teramat sangat. Belum sempat ia mencerna situasi mistis itu, suara asing tersebut kembali berbisik, terdengar jauh lebih jelas dan dekat di telinganya. "...aku menemukanmu."SUAMI BARU ROSELA part 2KEBAHAGIAAN YANG DIBENCIBeberapa hari kemudian, Arga tiba di negara tempat Rosela menetap. Ia datang menggunakan pesawat pribadi dan menginap di sebuah hotel mewah yang berada tidak terlalu jauh dari kawasan tempat tinggal perempuan itu.Tidak ada seorang pun yang mengetahui tujuan sebenarnya dari kedatangannya. Di hadapan orang-orang yang menyambutnya, Arga hanya mengatakan bahwa ia sedang mengurus perluasan bisnis perusahaan. Bahkan, asistennya pun telah diperintahkan untuk tidak membicarakan Rosela kepada siapa pun.Pada hari pertama, Arga memilih untuk tidak langsung mendatangi rumah tersebut.Ia ingin melihat kehidupan Rosela dari kejauhan.Sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan, tidak jauh dari sebuah rumah dua lantai dengan halaman kecil yang dipenuhi tanaman. Rumah itu terlihat sederhana jika dibandingkan dengan kediaman Arga, tetapi suasananya tampak hangat. Ada beberapa pot bunga di deka
SUAMI BARU ROSELAJEJAK YANG AKHIRNYA DITEMUKANJika energi para perempuan jalanan tidak lagi cukup, ia akan mencari sumber yang lebih kuat. Dan jika sumber itu ternyata berhubungan dengan Rosela, ia akan menemukan perempuan tersebut, di mana pun ia bersembunyi.Arga menutup buku catatannya, kemudian menyimpannya kembali ke dalam laci. Malam itu, ia tidak menyadari bahwa keputusan yang baru saja diambilnya akan membawa dirinya semakin dekat kepada rahasia yang selama ini berusaha disembunyikan oleh keluarganya.Di tempat lain, jauh dari negara yang telah ditinggalkannya, Rosela sedang menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda. Ia tidak mengetahui bahwa pria yang pernah menghancurkan hidupnya mulai merasakan kemunduran pada kekuatan yang selama ini membuatnya tampak tak terkalahkan.Sementara Arga sibuk mencari cara untuk mempertahankan kemudaannya, waktu terus berjalan. Dan untuk pertama kalinya, waktu mulai berpihak pada orang yang paling ingin ia temukan.Dua tahun bukanlah waktu
KEMUDAAN YANG MEMUDAR RAJA DI ATAS KEKAYAAN Emosi negatif itu menjadi sumber energi yang selama ini membantunya mempertahankan penampilan muda.Setiap kali berhasil menyerap energi dari korbannya, Arga merasakan tubuhnya kembali dipenuhi kekuatan. Rasa lelah menghilang, pikirannya menjadi lebih tajam, dan wajahnya terlihat semakin segar. Pengalaman itu membuatnya percaya bahwa dirinya telah menemukan cara untuk mengalahkan waktu.Ia bahkan tidak lagi merasa perlu menyembunyikan kepuasannya ketika melihat pantulan wajahnya di cermin.Pada suatu malam, setelah menghadiri pesta yang dipenuhi para pejabat dan pengusaha ternama, Arga berdiri sendirian di ruang kerjanya. Jas hitam yang dikenakannya masih rapi, sementara sebuah gelas berisi minuman terletak di atas meja. Dari jendela besar di belakangnya, cahaya kota terlihat seperti hamparan bintang yang jatuh ke bumi.Ia mengangkat gelasnya, kemudian tersenyum tipis."
WANITA YANG MENGHILANGSementara Rosela berusaha meninggalkan masa lalunya, suasana di kediaman Arga justru semakin tidak menentu.Sejak beberapa hari sebelumnya, para pelayan mulai menyadari bahwa Nadia tidak pernah terlihat lagi. Perempuan yang terakhir kali dibawa ke paviliun dalam keadaan tidak sadarkan diri itu seolah lenyap tanpa meninggalkan jejak. Tidak ada yang mengetahui apakah Nadia masih berada di dalam bangunan tersebut, dipindahkan ke tempat lain, atau mengalami sesuatu yang tidak berani mereka bayangkan.Paviliun itu sendiri dijaga lebih ketat daripada biasanya.Beberapa pelayan yang mencoba mencari tahu keberadaan Nadia justru mendapat peringatan keras agar tidak mencampuri urusan tuan mereka. Sejak saat itu, tidak seorang pun berani mengajukan pertanyaan. Mereka hanya saling bertukar pandang setiap kali melewati bangunan yang berdiri agak jauh dari rumah utama tersebut.Di antara mereka, ada seorang pelayan tua yang tampa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu