Malam itu, di dalam kamar Arga yang pengap dan dingin meski kipas angin berputar tanpa henti, berdiri sebuah botol kaca berukir rumit di atas meja kayu yang catnya mulai mengelupas. Botol parfum itu kembali hampir kosong, dengan cairan berwarna keemasan di dalamnya yang kini hanya menyisakan beberapa tetes tipis di dasar kaca. Setiap kali cairan itu menyusut, tubuh Arga merespons dengan rasa sakit yang tak tertahankan, membuat sendi-sendinya terasa ngilu, kulitnya tampak kusam, dan bayangannya di cermin seolah memudar hingga menjadi asing dan tak berkarakter. Ia tahu persis bahwa wadah kaca itu butuh makan, dan dirinya harus bertahan hidup dengan cara apa pun.Maka, Arga mulai berburu wanita yang sedang berada di titik terendah dalam hidup mereka, seperti mereka yang baru saja ditinggalkan, dihancurkan oleh rasa dikhianati, atau tenggelam dalam keputusasaan yang begitu dalam. Wanita dengan jiwa yang retak jauh lebih mudah ditaklukkan karena keretakan emosional itu adalah pintu masuk p
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-03 อ่านเพิ่มเติม