“Bocah!”Bentakan itu memecah udara pagi. Seorang pria kekar maju paling depan. Tubuhnya besar, bahunya lebar, dan hampir seluruh lengan serta sebagian wajahnya dipenuhi tato hitam yang tampak kasar. Bekas luka tipis melintang di dekat rahangnya, membuat senyum miring di bibirnya terlihat semakin mengganggu.Matanya menatap Jaka seolah sedang menatap mangsa.“Kemarin kau memperlakukan kawan kami dengan sangat baik,” katanya dengan suara berat. “Sekarang, izinkan kami membalas!”Di belakang pria itu, puluhan preman berdiri menyebar. Ada yang membawa parang, pisau, balok kayu, rantai, sampai batang besi berkarat. Mereka tidak datang untuk menakut-nakuti. Dari cara mereka menggenggam senjata, dari sorot mata yang terlalu dingin, Jaka bisa melihat bahwa orang-orang itu sudah terbiasa menganiaya orang lain. Jaka berdiri dengan kokoh di depan ibunya.Tubuhnya tidak bergerak sedikit pun. Telapak kakinya menapak kuat di sandal, bahunya tegak, dan kedua tangannya menggantung santai di sisi t
Terakhir Diperbarui : 2026-06-22 Baca selengkapnya