Setelah semua pohon buah selesai disiram, Jaka kembali ke pohon pertama.Langkahnya sedikit cepat. Di dalam hati, ia berharap bisa melihat buah muncul seperti cabai yang tiba-tiba matang. Ia membayangkan cabang-cabang penuh mangga, jambu, atau buah lain yang menggantung berat, siap dipetik, siap dijual, siap mengubah nasib mereka sedikit demi sedikit.Namun ketika sampai di sana, ia berhenti.Pohon itu memang jauh lebih hijau daripada sebelumnya.Daunnya segar. Batangnya tampak kuat. Tunas baru tumbuh di beberapa ranting.Tetapi belum ada buah.Tidak satu pun.Jaka menatap cabang-cabang kosong itu beberapa saat.Rasa kecewa pelan-pelan turun di dadanya.“Sudah kuduga,” gumamnya.Ia menghela napas, lalu tersenyum pahit.“Berbeda dari cabai dan sayur, pohon buah membutuhkan lebih banyak nutrisi untuk berbuah.”Dina yang berdiri di belakangnya ikut menatap pohon itu.“Tidak langsung berbuah, ya?”“Sepertinya begitu,” jawab Jaka.“Kakak kecewa?”“Sedikit.”Dina tersenyum kecil. “Tapi poho
最終更新日 : 2026-06-16 続きを読む