LOGINJarak lima belas menit berjalan kaki menyusuri trotoar kabupaten ternyata cukup ampuh mengurai sedikit keringat di pelipis Dina. Udara malam yang tadinya lembap dan lengket perlahan tergantikan oleh hawa dingin buatan dari pendingin ruangan yang berembus pelan saat pintu kaca otomatis dealer resmi itu terbuka membelah jalan mereka.Kontras dengan jalanan pasar malam yang berisik, berasap, dan saling berdesakan, ruang pamer ini terasa sangat bersih sekaligus terang benderang. Lantai keramik putihnya memantulkan cahaya lampu sorot dari atas plafon bak cermin raksasa. Aroma karet ban baru yang khas, bercampur semir logam dan wangi cairan pembersih kaca, langsung menyambut kedatangan dua kakak beradik itu.Mata Jaka bergerak memindai ruangan dan seketika terkunci pada sebuah panggung di sudut paling mencolok. Di sana, bertengger sebuah Kawasaki Ninja H2, memancarkan aura buas dari desain bodinya yang runcing dan agresif. Cat peraknya berkilau menantang, seolah menyedot dan memantulkan
Seminggu telah menguap sejak Retin Lupoz meninggalkan pekarangan keluarga Jaka. Aroma tanah basah dan daun segar masih tertinggal, menjadi saksi bisu dari lima kali siklus panen yang luar biasa cepat. Angka di layar ponsel Jaka tidak lagi sekadar deretan nol biasa; nominalnya sukses menembus sepuluh miliar rupiah. Cahaya dari layar itu memantul di pupil Jaka saat ia duduk bersandar di teras samping, menikmati semilir angin sore. Pembagian proporsi sembilan banding satu sudah final. Jemari kasar Bejo, sang ayah, sempat menolak keras lembaran digital itu saat Jaka berniat menyerahkan porsi yang jauh lebih besar dari kesepakatan awal.'Aku cuma butuh tembakau dan kopi seduh. Buat apa uang sebanyak itu?' tolak Bejo waktu itu, memaksa Jaka menyisipkan paksa sepuluh persen hak sang ayah ke rekening terpisah agar pria tua itu tidak bisa mengembalikannya lagi. Jaka akhirnya mengalah, mengamankan sembilan puluh persen sisanya.Matahari perlahan luruh, mengubah warna langit menjadi jingga
Aroma tumis bawang putih dan kuah kaldu masih mengendap tipis di udara, meninggalkan jejak kehangatan setelah makan malam usai. Di sela-sela denting sendok dan piring yang dibereskan Susi dari meja makan, Dina berjalan riang menuju pekarangan depan. Kedua tangannya memegang erat sebuah nampan plastik berisi susunan potongan semangka dan melon dingin.Targetnya adalah tiga pria bertubuh kekar berbalut setelan jas hitam yang sejak tadi berdiri kaku di dekat mobil SUV.Begitu Dina menyodorkan nampan tersebut, ekspresi keras bagai batu dari sang supir dan dua pengawal itu runtuh seketika. Mereka membungkuk hormat nyaris sembilan puluh derajat, bergantian mengucapkan rentetan terima kasih dengan nada yang kelewat tulus untuk ukuran pria-pria berwajah seram. Melihat pria-pria raksasa itu mengunyah semangka dengan mata berbinar, Dina membusungkan dada kecilnya yang masih berkembang, tersenyum bangga seolah baru saja memenangkan medali kepahlawanan.Malam terus merambat naik. Suara jangkr
*Vroom!*Deru mesin bervolume tinggi membelah keheningan malam di pedesaan itu. Getaran dari ban berukuran masif yang menggilas jalan tidak rata merambat hingga ke telapak kaki. Sebuah mobil hitam besar bergaya militer merayap pelan dari arah jalan samping, lalu berhenti tepat di depan pekarangan rumah Jaka.Engsel pintu rumah berderit terbuka. Jaka melangkah lebih dulu melewati ambang pintu, membiarkan udara malam yang dingin menerpa wajahnya. Di belakang punggungnya, Susi dan Bejo menyusul, sementara Dina mengintip dari balik lengan ibunya. Seluruh keluarga itu berdiri kaku, menanti orang yang akan turun dari perut kendaraan baja itu. Dari sisi seberang, Andini melangkah turun. Gadis itu tidak sendiri. Tangannya mencengkeram pegangan sebuah kursi roda, mendorongnya perlahan mendekati pagar kayu rumah Jaka. Di atas kursi roda itu, duduk seorang pria paruh baya dengan postur punggung yang menolak untuk bersandar rileks.Jarak mereka masih belasan meter, tetapi udara di sekitar pe
Cahaya matahari pagi mengintip dari celah tirai jendela, menyorot langsung ke wajah Jaka. Ia membuka kelopak matanya perlahan. Tidak ada sisa kantuk. Alih-alih, sebuah kehangatan yang solid menjalar dari perut bagian bawahnya, memompa energi segar ke setiap inci otot dan pembuluh darahnya. Ia mengepalkan telapak tangan, merasakan padatnya tenaga yang siap meledak.Sebuah senyum kepuasan terukir di wajahnya. "Tingkat 3 fase permulaan, tercapai."Pagi ini, batas yang selama ini menghalangi kultivasinya hancur berkeping-keping. Peningkatan ini bukan sekadar soal tenaga fisik. Jaka memusatkan pikirannya, merasakan kapasitas spiritual di dalam tubuhnya. Kini, ia mampu memadatkan energi alam menjadi empat tetes cairan spiritual murni setiap harinya, dua kali lipat dari batas maksimalnya kemarin.Udara pagi masih terasa lembap ketika Jaka melangkah keluar menuju sumur di belakang rumah. Embun menetes dari ujung daun pisang, menyentuh tanah basah. Ia berdiri di bibir sumur. Dengan satu jen
Aroma sedap kuah kaldu ayam dan uap nasi yang mengepul baru saja memenuhi ruang makan berukuran sederhana itu. Susi baru saja meletakkan mangkuk keramik di tengah meja ketika tiga ketukan beruntun terdengar dari arah pintu depan. Ketukan itu memecah kehangatan suasana malam, membuat tangan Susi yang memegang sendok sayur terhenti di udara.Ia menoleh ke arah pintu kayu jati yang catnya mulai mengelupas. Kerutan halus muncul di dahinya. "Siapa yang datang malam-malam begini?" gumamnya. Nada suaranya berayun rendah, menyimpan kecemasan tipis yang lumrah dirasakan penghuni rumah di desa saat tamu tak diundang bertandang di luar jam bertamu."Aku akan melihatnya."Jaka bangkit dari kursi kayunya. Kaki telanjangnya melangkah tanpa ragu melintasi lantai ubin dingin. Ia memutar kunci, menarik gagang pintu ke dalam, dan celah yang terbuka langsung membawa masuk embusan angin malam yang membawa aroma tanah kering.Di ambang pintu, cahaya lampu pijar teras yang kekuningan memantul pada helaia







