Mag-log inHina Yulia mendadak menutup mulutnya sendiri rapat-rapat menggunakan kedua belah tangan. Wajahnya tersipu merah padam karena rasa malu yang membakar pipi. Gadis itu berusaha setengah mati untuk tetap tenang, berdiri mematung di tengah perhatian orang-orang hingga tatapan serempak dari para tamu yang ada di sana perlahan-lahan beralih darinya."Tidak mungkin, apa kamu benar-benar Jaka?" ucap seorang pria tampan yang datang melangkah bersama Hina Yulia. Nada suaranya diwarnai ketidakpercayaan yang begitu nyata saat menatap sosok pemuda di depannya.Masih ada beberapa orang yang berdiri berkumpul di sudut aula tersebut. Salah satunya adalah seorang gadis cantik berpenampilan mencolok dengan gaun merah yang memamerkan lekuk tubuhnya yang menggoda.Namanya Mila, gadis yang dulu pernah memiliki perasaan mendalam terhadap Jaka semasa mereka masih duduk di bangku sekolah.Namun mata Mila kini tidak bisa berhenti memindai penampilan Jaka dari atas sampai bawah. Pandangan matanya tertuju pada p
Suara langkah kaki berirama pelan mengiringi dua sosok yang baru saja memasuki koridor gedung. Lampu kristal memancarkan kilau keemasan, memantulkan kemewahan acara reuni malam itu.Bisikan halus dari beberapa tamu di sudut ruangan langsung terdengar saat mereka melintas."Siapa pria yang jalan di sebelah Dewi Bisnis Andini?""Entahlah, paling cuma cowok beruntung yang kebetulan bisa berkenalan dengannya.""Julukan Dewi Bisnis memang bukan main-main. Cantiknya luar biasa, tidak kalah dari Nona Karina."Langkah Andini terhenti seketika. Gesekan gaun malamnya berdesir pelan saat tumit tingginya berhenti menginjak lantai marmer. Nama terakhir yang diucapkan para tamu rupanya berhasil memicu riak di wajah cantiknya.Jaka yang berjalan tepat di sampingnya memiliki kepekaan tajam. Ia langsung menangkap perubahan mikro pada gestur kekasihnya. "Kamu ada masalah sama Karina?" tanya Jaka berbisik, matanya menatap lekat wajah Andini.Andini menoleh. Binar matanya memancarkan kilatan jahil, diir
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Gedung megah di pusat kota menjadi saksi digelarnya acara reuni alumni sekolah.Sejak larut malam hingga fajar menyingsing, Jaka mengunci diri dalam ritme latihan intensif. Ketika pendar keemasan matahari terbit menerobos dari ufuk timur, kedua matanya terbuka perlahan. Suasana di sekelilingnya mendadak terasa jauh lebih jernih.'Peringkat empat fase permulaan...'Jaka bergumam lirih, menatap telapak tangannya yang diselimuti pendar tipis energi spiritual. Desir arus hangat mengalir cepat melalui pembuluh darahnya, membawa sensasi kebugaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia berusaha keras meredam lonjakan kegembiraan yang bergejolak hebat di dalam dadanya.Kekuatan fisik serta kapasitas energi spiritualnya meningkat drastis hingga tiga kali lipat. Tidak hanya itu, jumlah cairan spiritual yang mampu ia produksi dalam sehari kini berlipat ganda.Tawa kecil lolos dari bibirnya saat menyadari lonjakan drastis dalam tubuhnya. Setelah berha
Perubahan status menjadi pasangan kekasih dengan Andini rupanya tidak lantas mengubah pola hidup Jaka secara drastis. Ritme harinya tetap mengalir dalam pola yang hampir serupa, presisi dan disiplin seperti biasa.Satu-satunya warna baru hadir saat malam menyapa. Percakapan jarak jauh melalui sambungan telepon kerap berlangsung hingga larut, mengisi jeda singkat sebelum ia memulai rutinitas latihan malamnya.Begitu tirai kegelapan memudar di ufuk timur, Jaka telah menuntaskan rangkaian latihan harian. Tetesan cairan spiritual ia alirkan perlahan ke dalam sumur tua di sudut halaman, disusul pembagian porsi latihan berat dan sarapan bernutrisi.Mentari mulai meninggi, membawa aroma tanah basah dan kesegaran dedaunan. Dari pagi hingga petang menjelang, perhatiannya tercurah pada perkebunan melimpahkan hasil panen buah serta sayuran segar.Usai menuntaskan pekerjaan di ladang, Jaka mengumpulkan Jeanne, Rosa, dan Selia. Imbalan atas kerja keras mereka dibagikan tanpa sisa.Fluktuasi energi
Di sudut lorong yang remang-remang, suara Reza Duan masih terus bergema liar memprotes sikap dingin Jaka. Suara lengkingannya memantul keras pada dinding pualam, menyuarakan amarah membara karena merasa diabaikan secara terang-terangan di depan pelindungnya. Namun, Jaka sama sekali tak mengindahkan keberadaan pemuda itu. Bagi Jaka, bentakan Reza tak lebih dari suara bising yang tidak perlu ditanggapi."Sudah cukup," potong Jaka santai sembari membetulkan posisi jaketnya yang sedikit bergeser. "Aku sudah menjawab semua pertanyaanmu."Viktor Liang tertegun sejenak mencerna pengakuan Jaka, lalu menghela napas pasrah. Ketiadaan motif bohong pada mata Jaka membuatnya yakin. "... Baiklah," sahut pria paruh baya itu pelan."Hei! Kenapa langsung setuju?! Jangan biarkan dia pergi begitu saja!" seru Reza Duan panik sambil mencoba melangkah maju mengejar Jaka.Dengan gerakan secepat kilat, Viktor Liang menggeser tubuhnya, memotong jalur jalan Tuan Mudanya. Ia menoleh ke arah Reza Duan, menggel
Lampu pendar di sepanjang lorong temaram memantulkan bayangan panjang yang saling berbenturan. Suasana sunyi seketika buyar oleh kekeh ringan yang meluncur santai dari bibir Jaka. Matanya melirik jenaka ke arah pemuda berdasi yang berdiri kaku di depannya."Sepertinya Tuan ini jauh lebih peka daripada dirimu," sindir Jaka, melengkungkan sudut bibirnya penuh nada ejekan ke arah Reza Duan.Dada Reza Duan kembang kempis. Ujung jemarinya gemetar menahan amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun."Apa katamu?" geram Reza Duan, mencoba menata ritme dadanya yang bergejolak hebat."He he he.""Kau!" Reza Duan melempar telunjuknya tepat di depan hidung Jaka. Matanya memerah, memancarkan kemarahan murni yang sudah tak tertampung.Jaka mengangkat kedua tangannya, menunjukkan telapak tangan terbuka tanpa rasa bersalah. "Apa-apaan reaksi itu? Aku hanya tertawa biasa.""Kau pasti sengaja menertawakan aku!" sahut Reza Duan dengan nada melengking yang menggema di dinding lorong.Bahu Jaka terangkat sa







