LOGINJaka hanyalah pemuda desa sederhana dari lereng Gunung Sumbing. Setelah difitnah dan kehilangan pekerjaannya di pabrik, ia terpaksa pulang ke rumah dan kembali bertani bersama ayahnya. Hidupnya yang dulu penuh harapan perlahan berubah menjadi hari-hari sunyi di ladang, ditemani tanah basah, keringat, dan rasa kecewa yang belum sepenuhnya hilang. Namun, beberapa bulan kemudian, sebuah firasat aneh mendorong Jaka untuk mendaki Gunung Sumbing. Di puncak gunung yang sunyi, ia bertemu sosok misterius yang mengaku sebagai penjaga gunung. Dari pertemuan itu, Jaka menerima hadiah yang mengubah nasibnya selamanya: Mantra Embun Abadi, teknik mistis untuk melatih keabadian sekaligus menciptakan tetesan air spiritual. Air itu mampu mempercepat pertumbuhan tanaman hingga seribu kali lipat dan menyembuhkan berbagai penyakit jika dikonsumsi. Bermula dari ladang sederhana milik keluarganya, Jaka perlahan membangun jalan baru menuju kekayaan, kekuatan, dan kehidupan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Namun perubahan besar selalu menarik perhatian besar. Dewi bisnis terkenal, mahasiswi lembut, dokter dingin, hingga selebriti papan atas mulai mendekatinya, masing-masing membawa niat, rahasia, dan godaan tersendiri. Dari petani biasa yang diremehkan, Jaka akan membuktikan bahwa takdir bisa tumbuh dari setetes embun.
View MoreKaki Jaka mendarat sempurna di atas karpet tebal kamar hotel tanpa menimbulkan getaran keras."Angkat tangan!"Sebuah gertakan berhawa dingin memotong udara kamar secara mendadak. Belum sempat Jaka berdiri tegak, sebuah logam bundar bermulut hitam sudah berada tepat satu inci di depan keningnya."Eh?"Jaka tertegun di tempat. Tubuhnya membeku secara instan saat merasakan sensasi dingin baja yang menodong dahinya.Tanpa membuat gerakan mengejutkan, Jaka perlahan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahu. Pandangannya bergulir dari moncong pistol menuju sosok pemegang senjata tersebut.Seorang wanita berdiri tegap dalam kuda-kuda menembak yang sangat presisi. Rambut hitamnya yang panjang terikat rapi ke belakang, menonjolkan garis wajah yang sangat cantik namun terbalut oleh tatapan mata yang pekat akan amarah."Kejahatanmu berakhir di sini, dasar pria mesum!" bentak wanita itu dengan nada menusuk.Jemarinya melingkar ketat di gagang senjata, sementara telunjuknya mulai memberikan
Rapat koordinasi antar divisi di lantai teratas gedung perkantoran itu baru saja berakhir. Pintu kayu mahoni yang kokoh berdesir pelan saat tertutup rapat, menyisakan ruang kerja Andini yang luas dan dingin.Jaka melangkah santai melintasi karpet tebal. Dia menjatuhkan tubuhnya ke sofa kulit berwarna hitam yang terpajang di sudut ruangan.Belum sempat Jaka meluruskan kedua kakinya, sebuah kehangatan mendadak hinggap di atas pangkuannya. Aroma harum bunga melati langsung menyapu indra penciumannya.Andini melingkarkan kedua tangan halusnya di leher Jaka tanpa ragu. Gaun kemeja putih yang dikenakannya sedikit terangkat, memperlihatkan paha mulus yang bersentuhan langsung dengan celana kain Jaka."Bagaimana menurutmu? Mereka luar biasa, kan?" bisik Andini dengan nada manja.Wajah gadis itu berjarak hanya beberapa senti dari telinga Jaka. Hembusan napas hangatnya membuat tengkuk Jaka merinding.Jaka mengangguk setuju. Tangan kanannya terangkat spontan, mengusap punggung mulus Andini yang
"Sekian laporan dari kami."Acara berita baru saja berakhir namun suasana berat masih memenuhi ruang tamu sederhana rumah Jaka.Layar televisi tabung di sudut ruangan beralih menampilkan siaran iklan komersial.Cahaya kebiruan dari layar memantul pada dinding rumah yang bercat putih kusam."Belakangan ini semakin marak terjadi pelecehan, benar-benar membuatku muak."Bejo mengepalkan tangan hingga bergetar hebat.Urat-urat hijau di punggung tangannya mencuat tegang saat ia menghantamkan tinjunya ke bantalan kursi busa.Giginya bergemeletuk menahan gelombang amarah yang mendidih di dalam rongga dadanya."Pelaku bajingan itu benar-benar tidak punya nurani," sembur Bejo dengan napas memburu."Kalau sampai kutemukan orangnya di jalanan, akan kuhajar wajahnya sampai hancur!""Kecilkan suaramu, Sayang, kau bisa merusak kursi itu," tegur Susi seraya melirik lorong rumah."Setelah melihat berita ini, aku jadi khawatir kepada Dina."Susi bergumam penuh kekhawatiran sambil meremas ujung taplak m
Darius Albert duduk di atas ranjang besar yang diterangi cahaya merah muda temaram.Ia sepenuhnya telanjang, hanya tertutup oleh selimut tebal yang memiliki beberapa noda darah.Urat-urat di tubuhnya berdenyut pelan, menyesuaikan diri dengan aliran darah yang baru ia kuasai.Di lantai sekeliling tempat tidur, tiga wanita telanjang total berbaring lemah tidak berdaya.Mulut mereka ditutup lakban, tubuh mereka dipenuhi luka lebam yang tidak manusiawi.Kulit mereka tampak pucat pasi, terkuras habis oleh ritual mengerikan yang baru saja usai."Ku ku ku."Tawa jahat Darius Albert menggema di ruangan itu.Suaranya terdengar serak dan berat, memantul pada dinding kaca kamar yang tertutup gorden tebal.Ia menggerakkan jemarinya, menikmati lonjakan hawa murni yang mengalir deras di jalur meridian tubuhnya."Tubuh ini lumayan bagus. Energi Yin dari tiga wanita sudah cukup membantuku menerobos tingkat dua fase permulaan."Wush!Kobaran api berwarna putih pucat muncul di telapak tangan Darius Alb






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews