로그인Jaka hanyalah pemuda desa sederhana dari lereng Gunung Sumbing. Setelah difitnah dan kehilangan pekerjaannya di pabrik, ia terpaksa pulang ke rumah dan kembali bertani bersama ayahnya. Hidupnya yang dulu penuh harapan perlahan berubah menjadi hari-hari sunyi di ladang, ditemani tanah basah, keringat, dan rasa kecewa yang belum sepenuhnya hilang. Namun, beberapa bulan kemudian, sebuah firasat aneh mendorong Jaka untuk mendaki Gunung Sumbing. Di puncak gunung yang sunyi, ia bertemu sosok misterius yang mengaku sebagai penjaga gunung. Dari pertemuan itu, Jaka menerima hadiah yang mengubah nasibnya selamanya: Mantra Embun Abadi, teknik mistis untuk melatih keabadian sekaligus menciptakan tetesan air spiritual. Air itu mampu mempercepat pertumbuhan tanaman hingga seribu kali lipat dan menyembuhkan berbagai penyakit jika dikonsumsi. Bermula dari ladang sederhana milik keluarganya, Jaka perlahan membangun jalan baru menuju kekayaan, kekuatan, dan kehidupan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Namun perubahan besar selalu menarik perhatian besar. Dewi bisnis terkenal, mahasiswi lembut, dokter dingin, hingga selebriti papan atas mulai mendekatinya, masing-masing membawa niat, rahasia, dan godaan tersendiri. Dari petani biasa yang diremehkan, Jaka akan membuktikan bahwa takdir bisa tumbuh dari setetes embun.
더 보기Dunia Paralel, Indonesia, Jawa Tengah, Temanggung.
Di lereng Gunung Sumbing, jauh dari bising kendaraan besar dan gemerlap lampu perkotaan, sebuah keluarga kecil hidup dengan sederhana. Rumah mereka berdiri di antara hamparan ladang dan kebun yang mengikuti lekuk tanah pegunungan. Saat pagi datang, kabut tipis sering turun pelan dari arah lereng, menyelimuti atap rumah, daun-daun sayur, dan jalan tanah yang masih basah oleh embun. Udara di sana dingin, tetapi bersih. Setiap tarikan napas terasa membawa aroma tanah, rumput, kayu bakar, dan sisa asap dapur dari rumah-rumah tetangga yang mulai menanak nasi. Keluarga tersebut terdiri dari empat anggota. Sepasang suami-istri bernama Bejo dan Susi, anak laki-laki tertua mereka, Jaka, serta adik perempuan Jaka, Dina. Bejo dan Susi hanyalah orang tua biasa. Pendidikan mereka rendah. Bahkan, keduanya tidak sempat lulus SD karena sejak kecil sudah harus membantu keluarga masing-masing bekerja. Hidup tidak pernah benar-benar mudah bagi mereka. Selama bertahun-tahun, mereka menjalani hari dengan cara yang sama, bangun sebelum matahari terbit, bekerja sampai badan lelah, lalu pulang saat langit mulai gelap. Meski begitu, keduanya tidak pernah mengeluh di depan anak-anak. Bagi Bejo dan Susi, hidup boleh keras, tetapi anak-anak mereka tidak boleh kehilangan kesempatan. Karena itulah, meskipun mereka hidup sederhana, bahkan sering harus menghitung uang belanja dengan sangat hati-hati, keduanya tetap berusaha memberi yang terbaik untuk Jaka dan Dina. Hal itu terbukti dari satu hal yang selalu mereka banggakan dalam diam. Mereka bisa menyekolahkan kedua anaknya hingga SMA. Bagi sebagian orang, mungkin itu terdengar biasa. Namun bagi keluarga kecil di lereng gunung seperti mereka, itu bukan pencapaian kecil. Uang seragam, buku, iuran sekolah, ongkos, sampai kebutuhan harian selalu menjadi beban yang harus dipikirkan setiap bulan. Terkadang Bejo harus bekerja lebih lama di ladang. Terkadang Susi menahan diri untuk tidak membeli kebutuhan pribadi agar uangnya bisa dialihkan untuk anak-anak. Jaka lulus dua tahun lalu. Dina baru saja naik ke kelas dua SMA. Entah kenapa, keluarga mereka tidak tercatat sebagai keluarga miskin. Nama mereka tidak masuk daftar penerima bantuan apa pun dari pemerintah. Padahal, jika melihat kehidupan sehari-hari, mereka jelas bukan keluarga yang berkecukupan. Namun karena urusan data dan administrasi yang tidak pernah mereka pahami sepenuhnya, Bejo dan Susi hanya bisa menerima kenyataan. Dengan kata lain, seluruh biaya sekolah ditanggung sendiri oleh keluarga kecil mereka. Jaka memahami itu sejak lama. Dia adalah anak yang jujur dan tahu diri. Sejak kecil, ia sudah terbiasa melihat ayahnya pulang dengan punggung basah oleh keringat, juga melihat ibunya menyisihkan lauk terbaik untuk anak-anak meskipun dirinya sendiri hanya makan seadanya. Karena itu, setelah lulus SMA, Jaka tidak pernah meminta untuk melanjutkan pendidikan. Bukannya ia tidak ingin kuliah. Tentu saja ia pernah membayangkannya. Melihat teman-temannya membicarakan kampus, jurusan, dan masa depan, Jaka juga sempat merasa dadanya berat. Ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin duduk di ruang kelas yang lebih tinggi, ingin belajar lebih banyak, dan mungkin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Namun setiap kali ia pulang dan melihat kondisi rumah, keinginan itu selalu ia telan kembali. Ia tahu, meminta kuliah sama saja dengan menambah beban ayah dan ibunya. Sebagai lulusan SMA, Jaka melakukannya dengan cukup baik. Tidak lama setelah kelulusan, dia diterima bekerja di salah satu pabrik kayu lapis dengan gaji pokok UMK. Pekerjaan itu tidak terdengar istimewa, tetapi bagi Jaka, itu adalah langkah pertama untuk membantu keluarga. Hari pertama ia menerima gaji, ia tidak membeli apa pun untuk dirinya sendiri. Sebagian besar uang itu ia serahkan kepada Susi, sementara sisanya ia simpan untuk ongkos dan kebutuhan kecil. Bejo tidak banyak bicara waktu itu. Namun Jaka melihat sendiri bagaimana mata ayahnya sedikit memerah saat menerima uang darinya. “Disimpan sebagian buat kamu juga,” kata Bejo waktu itu, suaranya serak. Jaka hanya tersenyum. “Tidak apa-apa, Pak. Aku masih bisa makan di rumah.” Sejak saat itu, Jaka bekerja dengan sungguh-sungguh. Bersambung...Melihat reaksi Jaka yang salah tingkah di luar jendela mobilnya, perasaan malu yang sempat membakar wajah Andini perlahan menyurut. Rasa terhibur justru muncul, menghangatkan rongga dadanya. Ujung bibir gadis itu tertarik perlahan, melukiskan senyum lega yang terasa jauh lebih natural dari sebelumnya."Sampai jumpa besok," ucap Andini memecah keheningan yang menekan telinga. "Aku akan segera menghubungimu begitu hasil ujinya keluar."Jaka menghentikan usapan di belakang kepalanya dan mengangguk pelan. "Baiklah. Akan aku tunggu."Jari Andini menekan tombol penyala mesin. Deru halus kendaraan Eropa itu langsung menggema rendah, menciptakan getaran yang merambat lambat ke jalanan aspal di bawahnya. Tepat sebelum tangannya meraih tuas persneling, ia teringat sesuatu."Oh ya, besok pagi aku akan mengirimkan ponsel baru untuk mempermudah komunikasi kita," Andini kembali menatap Jaka menembus bingkai jendela. "Aku juga akan membelikan satu untuk Dina. Pastikan ia menerimanya."Jaka mengerutk
Udara malam yang sejuk mendadak terasa terisolasi begitu Andini duduk di kursi kemudi. Aroma pengharum ruangan beraroma lavender di dalam kabin mobil mewahnya menabrak aroma khas tanah basah yang terbawa dari luar. Jari telunjuk Andini baru saja melayang di atas tombol penyala mesin. Namun, pergerakan tangannya tiba-tiba membeku di udara. Jemarinya melengkung pelan. Ia menarik napas panjang, membiarkan dadanya naik-turun dalam keheningan.Di luar jendela mobil yang kacanya sengaja dibiarkan terbuka setengah, Jaka menyadari jeda yang tidak wajar tersebut. Alis pemuda itu bertaut ringan. Ia mengambil satu langkah mendekat ke sisi pintu pengemudi."Ada apa?" Suara Jaka memotong desingan pelan angin malam yang berembus di sekitar mobil.Andini ragu sejenak. Ia menunduk menatap setir berlapis kulit di pangkuannya. Jari-jarinya mencengkeram lingkar setir itu erat, sebelum akhirnya ia mendongak dan menatap lurus ke wajah Jaka. Ada kilat keputusasaan yang merayap naik, mencoba menjebol pert
Aroma tumis bawang putih dan sisa uap nasi yang pulen masih mengambang di udara ruang makan berukuran sempit itu. Cahaya lampu pijar kekuningan dari langit-langit jatuh menerangi piring-piring keramik yang kini telah bersih tak bersisa. Andini meletakkan sendoknya secara perlahan di atas piring, mengambil selembar tisu, lalu menyeka sudut bibirnya dengan gerakan elegan. Ia mengangkat wajah, menatap wanita paruh baya di seberang meja yang tengah merapikan mangkuk lauk."Masakan Ibu sangat enak," puji Andini. Nada suaranya bergetar pelan, membawa ketulusan murni yang jarang ia tunjukkan di luar. "Bahkan, rasanya jauh lebih baik dari masakan koki bintang lima pribadiku di rumah."Mendengar pujian itu, pergerakan tangan Susi terhenti. Ia mengusap kedua telapak tangannya ke celemek pudar bermotif kotak-kotak yang membalut tubuhnya. Gurat kelelahan di sudut mata wanita itu melunak seketika."Ara ara~" Susi tertawa pelan. Rona merah muda menjalar halus di kedua tulang pipinya, mencetak rasa
Debu halus beterbangan di udara saat Jaka melesat pergi, meninggalkan Andini yang berdiri kebingungan di antara barisan pohon. Angin sore menyapu rambut peraknya, menambah kesan kesepian di tengah kebun yang lebat. Namun, kekosongan itu tidak berlangsung lama.Dari balik rimbunnya dedaunan di ujung petak, sesosok pria paruh baya berjalan mendekat. Celananya berlumur tanah basah, dan topi caping usang menempel di kepalanya. Bejo datang tepat waktu, mengusap telapak tangannya yang kotor ke kain lap yang terselip di pinggangnya, lalu melempar senyum ramah yang mengundang Andini untuk mengobrol sejenak, mengusir kecanggungan.Sementara itu, di dalam gudang penyimpanan di dekat rumah, Jaka bergerak dengan presisi yang hanya dimiliki oleh seseorang yang dikejar waktu. Napasnya teratur, matanya fokus. Ia berdiri di depan deretan ember bersih dan rak penyimpanan botol.'Mereka tidak butuh uang,' batin Jaka, tangannya dengan cekatan meraih sebuah botol kaca berukuran kecil. 'Maka aku akan mem
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.