Andini menarik napas dalam-dalam, menahan rongga dadanya sejenak, membiarkan udara dingin ruangan mengisi penuh paru-parunya sebelum ia menatap tepat ke manik mata ayahnya. Gestur tubuhnya berubah kaku, tegang, dan sangat defensif. "Ayah, dengarkan aku baik-baik," suaranya kini tidak lagi bergetar penuh keraguan, melainkan berganti dengan intonasi rendah yang sangat teguh. "Dan tolong, aku minta jangan pernah sela perkataanku sedikit pun sebelum aku benar-benar selesai menjelaskan semuanya."Melihat perubahan drastis pada postur putrinya, pria itu terdiam bungkam. Andini menunjukkan tingkat keseriusan mutlak yang sangat jarang, atau bahkan hampir tidak pernah, ia perlihatkan secara langsung di depan ayahnya sendiri. Ini bukan lagi sekadar percakapan keluarga biasa, melainkan sebuah negosiasi tentang peluang hidup dan mati.Jakun pria paruh baya itu naik turun saat ia menelan ludah. "Glek! Oke," ucapnya, suaranya melunak tanda menyerah. "Akan aku dengarkan dengan baik."Andini tidak
Última atualização : 2026-07-20 Ler mais