Di Bekasi, sore itu langit mulai gelap namun udara terasa masih berat bagi Rina. Tangannya masih memegang baju kemeja Dimas yang wangi asing itu, pikirannya terus berputar tanpa henti. Rasa curiga yang sempat mereda kembali muncul lebih kuat dari sebelumnya. Ia merasa tidak bisa diam saja menunggu kabar tanpa kepastian. Tanpa berpikir panjang, Rina mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor Dimas. Detik demi detik terasa sangat lama. Beberapa kali berdering, namun tidak ada jawaban. Hanya suara dering yang berkumandang di ruangan sepi itu, membuat hati Rina semakin cemas. Baru saat ia hampir saja memutuskan panggilan, akhirnya tombol jawab terdengar. "Halo..." Suara itu keluar dari seberang sana, namun berbeda dari biasanya. Tidak ada nada hangat, tidak ada suara yang jelas dan tenang. Sebaliknya, terdengar sedikit terengah-engah, seolah-olah Dimas sedang menahan napas, dan ada suara samar yang tidak biasa di latar belakang. Rina menahan napas, jantungnya berdegup ken
Baca selengkapnya