Share

Bab 27

Penulis: Bilkis29
last update Tanggal publikasi: 2026-06-29 08:15:47

Malam itu sudah larut. Hujan yang sempat reda tadi mulai turun kembali dengan gerimis, membuat udara di sekitar perumahan Bekasi terasa dingin dan sunyi. Rina masih duduk sendirian di ruang tengah, menatap pintu depan yang tertutup rapat.

Sejak Dimas pergi dan tidak pernah kembali, rumah itu terasa jauh lebih besar dan sepi dari sebelumnya. Setiap sudut ruangan seolah menyimpan kenangan yang dulu indah, namun kini hanya meninggalkan rasa sakit yang semakin dalam setiap kali diingat.

Rasa le
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 35

    Saat ia sedang mengangkat dus itu untuk diletakkan di ambang pintu depan, terdengar suara ketukan pelan di pintu. Rina membukanya, dan melihat Bu Siti tetangga sebelah berdiri di sana dengan wajah serba salah, matanya melirik ke arah dus besar di samping Rina. "Pagi, Rin..." sapa Bu Siti pelan. Matanya menyapu ruangan sebentar, seolah mencari sosok Dimas yang tidak ada di sana. "Eh... benar saja ya kabar yang beredar?" Rina mengangguk tenang, menyandarkan punggungnya ke bingkai pintu. "Iya, Bu. Kami bercerai." Bu Siti menghela napas panjang, lalu menunduk sejenak sebelum kembali menatap Rina dengan wajah iba. "Astaga... padahal kemarin sore baru ketemu Pak Dimas, dia bilang mau pulang cepat. Belum sempat saya tanya apa-apa, eh pagi ini sudah bertebaran kabar di seluruh kompleks. Katanya Pak Dimas sudah menikah diam-diam dengan wanita lain, sudah dua tahun lebih? Dan kau baru tahu belakangan ini? Ya ampun, Nak... betapa beratnya beban yang kau pikul sendirian selama ini." Kabar itu

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 34

    Angin sore di Bekasi terasa sejuk menyapa wajah Rina saat ia melangkah masuk ke halaman rumahnya. Rumah yang selama lima tahun ini ia anggap sebagai tempat pulang paling aman, kini terasa asing seperti rumah orang lain. Tapi tidak ada lagi sesak di dadanya, tidak ada lagi air mata yang menumpuk di pelupuk mata. Beban yang memikul pundaknya bertahun-tahun akhirnya terangkat, seberat apapun kenyataannya. Ia membuka pintu depan perlahan. Dimas sudah duduk di ruang tengah, kepala menunduk dalam, kedua tangannya meremas erat lutut. Baju yang dikenakannya masih sama seperti saat mereka bertemu tadi pagi—kini kusut, berantakan, dan ada noda basah di lengan kiri, bekas air hujan yang tiba-tiba turun siang tadi. Ia tidak berani menatap Rina, bahkan saat suara langkah kaki Rina terdengar jelas di lantai keramik. "Kau sudah pulang," ucap Dimas pelan, suaranya pecah dan serak. Rina mengangguk, meletakkan tas kecilnya di atas meja tamu. Ia berdiri tegak, pandangannya tenang dan tajam, tidak

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 33

    Setelah Rina kembali ke Bekasi dan mulai menyusun semua berkas serta bukti yang ia dapatkan di Bandung, Dimas baru menyadari bahwa situasinya telah berubah total. Ia baru saja pulang dari perjalanan dinas, masih merasa tenang karena mengira semuanya berjalan seperti yang ia bayangkan—Rina akan pergi tanpa banyak perlawanan, dan ia bisa bebas menjalani hubungan dengan Sari. Namun ketenangan itu hancur seketika ketika Rina datang ke rumah dengan wajah tenang namun tegas, meletakkan selembar kertas draf gugatan cerai beserta salinan bukti di atas meja ruang tengah. Begitu membaca isi surat dan melihat foto serta catatan yang ada, wajah Dimas langsung pucat pasi. Tangannya gemetar memegang kertas itu, dan seketika rasa sombong serta ketidakpedulian yang selama ini ia tunjukkan hilang lenyap digantikan rasa panik yang luar biasa. Ia tidak menyangka Rina akan melangkah sejauh ini, apalagi sampai pergi ke Bandung dan menemukan segala rahasianya. “Rina… apa ini? Dari mana kau dapatk

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 32

    Setelah beberapa hari mencoba bekerja namun pikiran tak pernah lepas dari Dimas, Rina akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah tegas. Ia mengajukan permohonan cuti selama satu minggu ke bagian kepegawaian kantor, dengan alasan urusan pribadi yang mendesak. Ia sadar, selama hanya berpegang pada firasat dan rasa sakit hati, proses perceraian yang ia inginkan takkan berjalan lancar. Ia butuh bukti nyata, sesuatu yang tak bisa dibantah, agar ia bisa melepaskan ikatan itu dengan kepala terangkat tinggi tanpa rasa bersalah sedikit pun. Hatinya sudah mati, namun logikanya tetap bekerja jernih. Ia menduga bahwa tempat persembunyian Dimas dan wanita lain itu bukan di Bekasi, melainkan di kota lain yang cukup sering dikunjungi suaminya dengan alasan dinas. Selama ini Dimas sering berangkat ke Bandung dengan alasan tugas kantor yang memakan waktu berhari-hari, dan setiap kali kembali, sikapnya selalu terasa semakin dingin dan menjauh. Rina pun yakin, di sanalah letak kebenaran ya

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 31

    Langkah kaki Rina melangkah mantap meninggalkan halaman rumah yang selama ini menjadi saksi suka dan duka hubungan mereka. Punggungnya terlihat tegap, meski di dalam hatinya masih tersisa sisa rasa perih yang perlahan ia kubur dalam-dalam. Ia tidak menoleh sedikit pun ke belakang—karena baginya, menoleh berarti memberi ruang bagi keraguan yang sudah ia buang jauh-jauh. Hari ini, ia ingin fokus pada pekerjaannya, pada satu-satunya hal yang selama ini masih memberinya rasa aman dan harga diri yang tak lagi didapatkannya dari Dimas. Di dalam rumah yang kini terasa sunyi dan hampa, Dimas berdiri mematung di ambang pintu, menatap sosok Rina yang semakin menjauh hingga hilang di tikungan jalan. Ia kembali masuk ke ruang tengah, lalu duduk terkulai di sofa yang sudah lama mereka miliki bersama. Pandangannya mengembara ke setiap sudut ruangan, dan tanpa sadar ingatannya pun melayang kembali ke masa-masa yang terasa begitu indah, seolah baru terjadi kemarin. Ia teringat saat p

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 30

    Rina tahu, Bu Dita dan semua orang itu tidak bersalah. Mereka hanya mendengar cerita dari Dimas dan mungkin juga dari Ibu Dimas sendiri, sehingga mereka menganggap Sari sebagai malaikat yang menolong Dimas, dan kepergiannya adalah langkah maju yang mulia. Tidak ada satu pun yang tahu bahwa di balik semua pujian itu, ada pengkhianatan, ada rasa jijik, dan ada hubungan rahasia yang bahkan sudah dilangsungkan secara agama. Rina berhenti sejenak di tempatnya, menunduk dan memegang erat tumpukan kain di tangannya. Ia tidak ingin mematahkan keyakinan mereka, tidak ingin membuat keributan, dan tidak ingin menjadi orang yang dianggap merusak nama baik suaminya. Ia hanya tersenyum tipis, lalu melanjutkan langkahnya pulang ke rumah, seolah tidak mendengar apa pun. Di dalam hati Rina, ia berdoa agar suatu hari nanti, kebenaran akan terungkap dengan sendirinya. Ia tahu bahwa waktu akan membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah. Sementara itu, Rina tidak akan membuang energinya untuk m

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 15

    "Ada apa ini? Kenapa kalian berdua berteriak dan bertengkar malam-malam begini?" tanya Ibu Dimas dengan suara yang tegas namun khawatir, lalu langsung menghadap ke arah Rina. "Rina, kamu tidak apa-apa nak? Kenapa kamu menangis?" Mendengar suara ibunya, Dimas hanya mengangkat bahu santai. "Nggak a

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 14

    Malam itu sudah cukup larut saat Dimas sampai di rumah. Jalanan sudah sepi dan udara terasa dingin, namun di dalam hatinya Dimas penuh dengan rasa bangga dan kepuasan yang tidak ia tunjukkan. Ia baru saja kembali dari rumah Sari, dengan perasaan bahwa ia sudah mendapatkan peluang besar dan dukung

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 2

    Suatu malam, saat Dimas sudah tidur pulas setelah menghabiskan sisa uang yang Rina dapatkan hari itu, Rina duduk di lantai dekat jendela. Di tangannya ada secarik kertas berisi daftar nama orang yang harus ia bayar. Angka-angka itu seolah menatapnya dengan sinis. Ia memegang dadanya yang terasa

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 1

    "Rina,Rina ......kamu bangun saja lama sekali, apa kamu mau kami kelaparan terus?" suara Dimas meledak, nada bicaranya tinggi dan penuh amarah, padahal Rina baru saja duduk di pinggir kasur. Rina menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang. "Maaf, Mas. Aku cuma ingin istirahat sebentar saja,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status