ログインSetelah semuanya terungkap—bukti dari Suster Murni, catatan obat-obatan palsu, rambut yang dicukur sendiri, dan rekam medis yang tidak jelas—ketiganya duduk berkeliling di ruang tengah, membiarkan keheningan menyelimuti ruangan itu sejenak. Rendra menggenggam buku catatan itu erat-erat, buku yang berisi semua kebohongan yang selama ini membelenggu perasaannya. Wajahnya tidak lagi murung karena kasihan, melainkan tegas, penuh kesadaran yang baru saja terbangun. "Lebih baik kita langsung pergi ke sana dan membongkar semuanya!" seru Rendra, suaranya bergetar menahan amarah. "Lihat saja wajahnya saat tahu semua rahasianya sudah terbongkar!" Namun Bu Widya menggeleng pelan, lalu menatap anaknya dengan tatapan tenang namun tajam. "Tunggu dulu, Nak. Kalau kita langsung menghadapinya sekarang, dia hanya akan menyusun kebohongan baru. Dia akan semakin berhati-hati, menutup jejaknya, dan mungkin menyakiti diri sendiri supaya terlihat seperti kita yang kejam. Itu justru yang dia inginkan—dram
Malam itu, setelah Rendra dan Rina saling bercerita habis-habisan tentang segala hal yang berkaitan dengan Casandra—mulai dari masa lalu di Amerika, video-call yang hampir menghancurkan rumah tangga mereka, hingga permohonan Casandra agar Rendra menemaninya menjalani kemoterapi—suasana di kamar tidur mereka akhirnya terasa lebih damai. Tidak ada lagi rahasia yang tersembunyi di balik senyum, tidak ada lagi rasa bersalah yang dipendam sendirian. Rendra merasa beban berat yang selama ini menekan dadanya perlahan terangkat, digantikan oleh rasa syukur karena istrinya mau mendengarkan dan memahami, walau tentu saja rasa sakit itu belum hilang sepenuhnya. Namun, di ruang tengah rumah itu, Ibu Widya duduk sendirian di kursi kayu jati kesayangannya, cahaya lampu yang remang-remang menyorot wajahnya yang tampak serius. Ia tidak bisa tidur. Sebagai seorang ibu yang telah melihat banyak peristiwa dalam hidup, ia punya insting yang jarang sekali salah. Dan insting itu berteriak keras: Casand
Langkah kaki Rendra terasa berat saat melangkah masuk ke dalam rumah yang seharusnya menjadi tempat paling tenang dan damai baginya. Pintu utama tertutup pelan di belakang punggungnya, menyisakan suara tawa dan keramaian dari perayaan tujuh bulanan yang baru saja ia tinggalkan. Udara di dalam rumah terasa hangat, dipenuhi aroma harum bunga dan masakan yang masih tersisa, namun hati Rendra terasa dingin dan sesak, seolah ada batu besar yang menumpuk di sana. Ia berjalan perlahan menuju balkon lantai atas, tempat yang biasanya menjadi tempat favoritnya untuk melepas lelah setelah seharian sibuk. Langit sore itu tampak indah, berwarna jingga keunguan yang memanjakan mata, namun pandangan mata Rendra tak mampu menikmati keindahan itu. Ia bersandar pada pagar balkon, menatap kosong ke arah halaman rumah yang masih tampak ramai, namun pikirannya melayang jauh—terbawa kembali pada kata-kata yang baru saja diucapkan Casandra kepadanya, dengan suara lemah dan mata yang basah oleh air m
Kebenaran di Balik Wajah PucatMalam itu, setelah mereka berdua saling berbagi isi hati dan tidak ada lagi rahasia yang tersembunyi di antara keduanya, suasana hati Rendra jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Rina duduk di sampingnya sambil mengusap lembut punggung tangan suaminya, menatapnya dengan tatapan penuh pengertian dan kasih sayang yang begitu dalam.“Besok pagi, mari kita pergi menjenguknya bersama-sama, Rendra,” ucap Rina dengan suara lembut namun tegas, memecah keheningan yang menyelimuti ruangan. “Aku tidak ingin kau menghadapi hal ini sendirian. Apa pun yang terjadi, kita adalah satu. Kita hadapi semuanya berdua.”Rendra menatap wajah istrinya yang bercahaya itu, lalu mengangguk perlahan. Rasa syukur kembali memenuhi dadanya—bagaimana ia bisa begitu beruntung memiliki istri yang begitu lembut hatinya namun juga begitu kuat pendiriannya? Ia mencium punggung tangan Rina dengan penuh rasa terima kasih. “Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah mengerti. Aku tidak tahu
Malam mulai menyelimuti kota, seiring dengan turunnya matahari di ufuk barat. Langit berubah menjadi perpaduan ungu dan kelam, dihiasi remang bintang yang mulai bermunculan satu per satu. Di dalam kamar yang hangat dan penuh kasih sayang, Rendra baru saja membantu Rina berbaring nyaman di atas ranjang empuknya. Ia menyelimuti tubuh istrinya dengan penuh perhatian, lalu mengusap lembut wajah cantik itu yang tampak sedikit lelah namun tetap bersinar. Perayaan tujuh bulanan tadi siang memang menyita tenaga Rina, meski senyum bahagia tak pernah lepas dari bibirnya. "Istirahatlah yang cukup, sayang. Jangan terlalu lama menatap layar ponselmu," bisik Rendra lembut sambil mengecup kening Rina penuh kasih. Rina tersenyum menggenggam jemari suaminya. "Terima kasih, Mas. Kau juga jangan begadang terlalu lama. Ada pekerjaan yang belum selesai?" "Sedikit saja, sayang. Tak lama. Sebentar lagi aku ikut berbaring di sisimu," jawab Rendra meyakinkan. Ia mengecup kening Rina sekali lagi sebelu
Hari itu langit tampak cerah bersih, seolah ikut tersenyum menyambut hari bahagia di kediaman keluarga Rendra dan Rina. Rumah yang biasanya tenang itu kini tampak hangat, dipenuhi tawa dan sapaan ramah para tetamu yang datang membawa doa dan kebahagiaan untuk tujuh bulanan kandungan Rina. Meski Rina sendiri menginginkan perayaan yang sederhana saja, tak sanggup menolak kerinduan kerabat dan keluarga dekat yang ingin turut merasakan sukacita bersama mereka. Ruang tamu dan teras rumah dihiasi seadanya namun terlihat sangat cantik dan menyentuh hati—bunga-bunga segar berwarna lembut tersusun rapi, aroma masakan khas rumah yang menggugah selera tercium hingga ke halaman, dan senyum yang tak pernah lepas dari wajah tuan rumah. Rina duduk di kursi empuk yang disiapkan khusus untuknya, mengenakan gaun longgar berwarna gading yang sangat anggun, menonjolkan kelembutan auranya. Perutnya yang mulai membuncit tampak begitu indah dibingkai kain itu, seolah menjadi lambing kasih sayang yang
Pagi itu udara masih terasa sejuk dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan. Matahari baru saja mulai muncul perlahan, menyinari atap-atap rumah yang berdiri berjejer. Dimas bangun lebih awal dari biasa. Ia bangun dengan wajah yang terlihat segar dan penuh semangat, seolah-olah harapan baru benar
Rina turun dari motor, melepas helm, dan melangkah masuk ke rumah. Langkah kakinya terhenti sejenak begitu masuk ke ruang tengah. Ia melihat lantai mengkilap bersih, tidak ada debu sedikit pun. Baju-baju yang biasanya menumpuk sudah tergantung rapi di jemuran. Semua barang tertata dengan bai
Keesokan harinya Dimas hanya diam saja duduk di depan rumah. Seperti biasa, Rina memasak dulu sebelum berangkat kerja. Ia bergerak ke sana kemari di dapur, menyiapkan makanan seadanya, namun tidak sekalipun ia menoleh ke arah suaminya. Tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun, Rina meletakkan kunci
Tekad Rina makin kuat. Ia melihat perubahan kecil. Dimas mulai gelisah. Ia tidak lagi bisa meminta uang seenaknya, tidak lagi bisa menuntut layanan batin kalau ia sendiri tidak memberi apa-apa, dan tidak lagi bisa melempar semua kesalahan begitu saja. Harga diri palsunya yang selama ini ia bangu







