LOGINMatahari pagi baru saja menyelinap masuk lewat celah jendela kamar yang kacanya sudah mulai berdebu. Rina mengerjap pelan, mengusap sisa kantuk dari matanya, namun rasa lelah yang terasa di sekujur tubuhnya tak kunjung hilang. Sudah tiga tahun ia menikah dengan Dimas, lelaki yang dulu ia anggap sebagai pelindung dan harapan hidupnya, namun kini berubah menjadi beban terberat yang harus ia pikul sendirian. Dimas duduk di tepi kasur, wajahnya masam seolah dunia ini selalu berbuat salah padanya. Ia tidak pernah mau bekerja. Setiap kali Rina mengajaknya mencari pekerjaan, jawabannya selalu sama: "Pekerjaan apa yang ada di sini? Semuanya rendah dan tidak pantas untukku." Padahal, banyak tetangga yang bekerja sebagai buruh, pedagang, atau tukang ojek demi menafkahi keluarga. Dimas lebih suka duduk di rumah, merokok, dan menunggu uang datang entah dari mana dia dapat. "
View More"Rina,Rina ......kamu bangun saja lama sekali, apa kamu mau kami kelaparan terus?" suara Dimas meledak, nada bicaranya tinggi dan penuh amarah, padahal Rina baru saja duduk di pinggir kasur.
Rina menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang. "Maaf, Mas. Aku cuma ingin istirahat sebentar saja, kemarin aku pulang larut malam dari tempat kerja." "Alasan saja!" Dimas menggebrak meja kecil di samping kasur, membuat barang-barang di atasnya bergetar. "Kerja, kerja, tapi uangnya tidak pernah cukup. Kamu yang tidak pandai mengatur uang, ya kan? Atau mungkin kamu menyembunyikannya di belakangku?" "Tidak, Mas... semua uang yang aku dapatkan aku berikan kepadamu dan untuk kebutuhan rumah," jawab Rina lemah. Gajinya sebagai buruh jahit memang tidak seberapa, namun ia berusaha sekuat tenaga agar kebutuhan dasar terpenuhi. Tapi Dimas selalu saja tidak puas. Uang yang ia berikan seringkali habis untuk rokok atau nongkrong bersama teman-temannya, dan saat uang habis, ia kembali marah-marah, menyalahkan Rina karena tidak memberi lebih banyak. Awalnya Rina hanya sedikit berhutang untuk membeli beras atau membayar listrik. Ia berpikir, nanti ia akan lunasi saat gajian. Setiap kali ada tagihan atau Dimas meminta uang untuk keperluannya sendiri, Rina terpaksa kembali meminjam—dari tetangga, dari teman kerja, hingga ke rentenir yang menawarkan pinjaman dengan bunga tinggi. Hutang-hutang itu kini menumpuk. Surat tagihan sering terselip di balik pintu, atau ada orang yang datang menagih langsung ke rumah. Rina harus berdalih dan berjanji akan membayar nanti, dengan hati yang berdebar ketakutan. Ia tidak berani menceritakan hal ini pada Dimas. Ia tahu, jika Dimas tahu, ia tidak akan merasa bersalah, malah akan makin marah dan menyalahkan Rina karena "membawa masalah" ke dalam rumah tangga mereka. Suatu sore, saat Rina baru saja pulang dengan badan yang lelah dan kantong yang kosong, ia mendengar suara Dimas yang berteriak dari dalam rumah. "Dari mana saja kamu ?! Aku sudah menunggu dari tadi, tidak ada makanan, tidak ada uang! Kamu ini istri macam apa?!" Rina masuk dengan langkah berat. "Maaf, Mas... hari ini pesanan banyak sekali, aku harus menyelesaikannya dulu. Dan uangnya... sebagian dipotong karena aku terlambat kemarin." Dimas berdiri, mendekati Rina dengan tatapan tajam. "Potong? Jadi kamu pulang dengan tangan kosong? Ia mendorong bahu Rina hingga wanita itu terhuyung ke belakang. Rina menahan tangisnya, rasa sakit di hati jauh lebih perih daripada rasa sakit fisik. "Bukan begitu, Mas. Aku berusaha sekuat tenaga. Tapi gajiku kecil, dan kita juga punya banyak kebutuhan... ditambah lagi hutang-hutang yang harus aku bayar." Dimas berhenti sejenak, lalu matanya membelalak. "Hutang? Hutang apa? Kamu berani-beraninya berhutang tanpa sepengetahuanku?. Kamu benar-benar tidak berguna! Kamu membuat nama aku buruk di mata orang lain!" "Aku terpaksa, Mas!" Rina akhirnya berani bicara lebih keras, air matanya jatuh tak terbendung lagi. "Aku berhutang supaya kita bisa makan, supaya kita bisa bayar listrik dan air! Karena kamu tidak mau bekerja, karena kamu cuma bisa marah-marah dan menuntut ini itu! Aku sudah lelah, Mas... aku sudah tidak sanggup lagi menanggung semuanya sendirian." Dimas terdiam sesaat, tapi bukannya merasa bersalah, ia malah makin marah. "Jadi sekarang kamu berani melawanku? Kamu lupa siapa suamimu? Kalau kamu tidak bisa mengurus rumah tangga ini dengan baik, itu salahmu sendiri! Jangan menyalahkanku!" Ia berbalik dan pergi meninggalkan rumah, membanting pintu dengan keras hingga dinding rumah terasa bergetar. Rina jatuh berlutut di lantai, menangis sejadi-jadinya. Di sekelilingnya, ia merasa terperangkap dalam lingkaran setan: suami yang dzalim dan tidak bertanggung jawab, hutang yang makin menumpuk, dan masa depan yang terasa gelap tanpa harapan. Malam itu, saat Dimas belum pulang, Rina duduk sendirian di sudut ruangan. Ia memandangi selembar kertas catatan hutang yang penuh dengan angka-angka yang membuat kepalanya pening. Ia sadar, selama ini ia salah. Ia berpikir bahwa dengan mengalah, bekerja keras, dan menutupi kekurangan suaminya, rumah tangganya akan baik-baik saja. Tapi kenyataannya, pengorbanannya hanya membuat Dimas makin nyaman dengan kemalasannya dan makin dzalim padanya. Rina mengusap air matanya, napasnya panjang dan berat. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Apakah ia harus terus bertahan dalam penderitaan ini, ataukah ia harus berani mengambil keputusan yang sulit demi menyelamatkan dirinya sendiri dari jeratan hutang dan perlakuan dzalim suaminya. Satu hal yang ia sadari malam itu: kasih sayang dan kesabaran saja tidak cukup untuk mengubah seseorang yang tidak mau berubah, dan ia tidak bisa terus-menerus mengorbankan hidupnya demi orang yang tidak pernah menghargainya. Hari-hari Rina berjalan bagai roda yang berputar terus tanpa henti, namun tak pernah membawa ia ke tempat yang lebih baik. Hutang-hutang itu kini bukan lagi sekadar angka di atas kertas, melainkan bayang-bayang hitam yang selalu mengikuti ke mana pun ia melangkah. Setiap kali ada ketukan pintu yang keras, jantungnya seakan berhenti berdetak. Itu pasti penagih utang. Ada yang datang dengan nada bicara masih sopan, ada pula yang berteriak di depan pagar, membuat tetangga-tetangga keluar dan menatap rumah itu dengan pandangan bertanya. Dan di saat-saat itulah, wajah Dimas berubah. Rasa malunya bukan karena ia tidak bekerja dan tidak menafkahi keluarganya, melainkan karena ia merasa malu dianggap punya istri yang "tidak pandai mengatur uang". Suatu sore, saat Rina baru saja sampai di depan pagar rumah dengan langkah gontai, ia melihat dua orang lelaki berdiri di depan pintu. Itu adalah orang yang dulu meminjamkan uang padanya saat Dimas sakit—padahal saat itu pun Dimas hanya sakit demam biasa dan menolak berobat ke puskesmas karena merasa "rendahan". "Assalamu’alaikum, Bu Rina. Kami datang untuk menagih uang yang dulu Bunda pinjam. Sudah lewat jatuh tempo dua bulan ini," ujar salah satu lelaki itu dengan nada tegas. Belum sempat Rina menjawab, pintu rumah terbuka lebar. Dimas keluar dengan wajah merah padam, bukan karena rasa bersalah, melainkan karena marah. Ia langsung berdiri di depan kedua orang itu, seolah ia adalah pemimpin rumah tangga yang hebat. "Wah, maafkan saya, Bapak-bapak! Saya benar-benar malu sekali!" seru Dimas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, suaranya cukup keras agar tetangga yang mulai mengintip dari balik pagar bisa mendengar. "Istri saya ini memang begini sifatnya. Diam-diam berhutang ke mana-mana, tidak pernah bilang sama saya. Saya saja baru tahu kalau dia punya utang banyak begini! Dia yang tidak pandai mengelola keuangan, boros, dan selalu saja mempermalukan saya di depan orang lain." Rina terpaku di tempat, kakinya terasa berat seolah tertanam di tanah. Lidahnya kaku, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Hati rasanya disayat-sayat. Dimas berbicara seolah dialah korban, seolah ia adalah suami yang bertanggung jawab yang terbebani oleh kelakuan buruk istrinya. Padahal, setiap rupiah yang dipinjam itu habis untuk beli beras, untuk rokok Dimas, untuk membayar listrik yang sudah lama menunggak—semua kebutuhan yang seharusnya ditanggung oleh kepala keluarga. Rina menelan ludah yang terasa pahit. Ia mendekat, suaranya bergetar saat berkata, "Maafkan kami, Pak. Saya berjanji minggu depan pasti lunas. Saya baru dapat kerjaan jahit banyak, hasilnya akan saya gunakan untuk membayar ini." Setelah penagih itu pergi sambil menggelengkan kepala, Dimas langsung membalikkan badan dan masuk ke dalam rumah dengan kasar. Begitu pintu tertutup, amarahnya meledak. Ia membanting kursi kayu di ruang tengah hingga terbalik. "Kamu lihat itu? Kamu lihat betapa malunya saya tadi?!" teriaknya, wajahnya merah padam menahan emosi. "Semua orang di kampung ini pasti sekarang mengira saya suami yang sial, dapat istri yang tidak tahu diri, banyak utang, dan boros! Kamu memang tidak pernah bisa bikin saya bangga, yang ada cuma malu dan malu terus!" Rina berdiri di sudut ruangan, air matanya menetes tanpa suara. "Mas... semua uang itu aku pakai untuk kebutuhan kita. Untuk makan, untuk bayar listrik, untuk beli rokok yang kamu minta setiap hari. Kalau kamu mau bekerja sedikit saja, aku tidak perlu sampai berhutang begini..." "Alasan saja!" potong Dimas cepat, berjalan mendekati Rina hingga wanita itu mundur ketakutan. "Tugas istri itu mengatur apa yang ada. Gaji kamu ada, tapi kok bisa kurang? Itu salah kamu, karena kamu yang tidak pandai mengatur! Jangan selalu cari alasan dan menyalahkan saya. Saya laki-laki, saya punya harga diri! Saya malu kalau orang tahu rumah tangga kita kekurangan. Dan semua ini salahmu!" Bagi Dimas, harga dirinya lebih mahal daripada kenyataan pahit. Ia lebih suka menjelekkan nama istrinya di depan umum, membuat orang lain berpikir bahwa Rina adalah wanita yang boros dan tidak bertanggung jawab, daripada mengakui bahwa ia sendiri adalah lelaki pemalas yang tidak mau bekerja, yang membiarkan istrinya menanggung beban hidup sendirian. Hari demi hari, perlakuan itu makin menjadi-jadi. Setiap kali ada orang datang menagih, Dimas selalu mengulang skenario yang sama. Ia akan keluar dengan wajah sedih dan malu, lalu bercerita ke siapa saja yang mau mendengar bahwa ia sangat kecewa dengan kelakuan istrinya yang suka berhutang diam-diam. Ia bahkan berani berkata pada tetangga, "Saya sebenarnya sudah berusaha memberi nafkah cukup, tapi dia yang tidak puas, dia yang boros. Saya sampai malu bergaul karena ulahnya." Berita itu menyebar cepat. Tatapan tetangga berubah. Dulu mereka kasihan melihat Rina pulang pergi bekerja dari pagi sampai malam, tapi sekarang banyak yang berbisik-bisik, menganggap Rina memang wanita yang tidak pandai mengelola uang atau bahkan boros. Ada yang menasihatinya, ada yang mencibir, ada pula yang menjauh. Rina merasa dunianya sempit dan gelap. Ia sendirian. Suaminya yang seharusnya menjadi pelindung justru menjadi orang yang paling tajam menusuknya dari belakang.Sari duduk sendirian di kursi goyang empuk di sudut kamar utama, tangannya lembut mengusap perutnya yang kini sudah membuncit cantik. Cahaya matahari sore menyinari wajahnya, namun tidak mampu menghapus keresahan yang terus membayangi benaknya. Ia kembali menelusuri kenangan yang sudah lama ia kunci rapat-rapat di dalam hati, kenangan yang menjadi awal mula segala kebohongan besar yang kini ia pikul sendirian. Saat itu belum genap dua bulan mereka menikah. Dimas tampak begitu bahagia, penuh harap ingin segera memiliki keturunan. Setiap malam ia selalu berbicara tentang masa depan, tentang anak-anak yang akan berlari mengelilingi rumah mereka, tentang bagaimana ia akan mendidik dan menyayangi mereka sepenuh hati. Sari hanya bisa tersenyum mendengarnya, meski dalam hati ada rasa cemas yang mulai merayap. Suatu hari, mereka sepakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan kandungan. Hasilnya datang begitu menghantam seperti petir di siang bolong. Dokter berkata dengan nada lembut namun te
Matahari pagi itu menyelinap lembut lewat jendela kaca besar kamar utama rumah mewah milik Dimas dan Sari. Dimas sudah bangun lebih awal, sibuk merapikan berkas-berkas kerjanya di meja belajar, sesekali melirik ke arah tempat tidur tempat istrinya masih terbaring dengan tenang. Sari tampak begitu cantik meski baru bangun tidur, perutnya yang kini sudah menginjak usia tujuh bulan terlihat jelas menonjol di balik selimut lembut. Senyum bahagia terus mengembang di wajah Dimas setiap kali ia memandang perut itu. Baginya, janin yang ada di sana adalah bukti cinta abadi mereka, anugerah terindah yang mengubah hidupnya menjadi jauh lebih sempurna. "Sayang, sudah bangun?" sapa Dimas lembut saat melihat Sari mulai mengerjap pelan. Ia segera berjalan mendekat, duduk di tepi kasur lalu mengusap lembut rambut panjang Sari. "Ibu hamil harus bangun pagi supaya sehat ya. Aku sudah minta pembantu menyiapkan sarapan kesukaanmu." Sari tersenyum tipis, namun ada kilat kegelisahan yang cepat sekali h
Suasana di ruang rawat inap rumah sakit terasa sunyi namun penuh kekhawatiran. Rina masih terbaring lemah di atas ranjang, wajahnya pucat pasi, selang infus menempel di punggung tangannya. Sesekali ia meremas perut bagian bawah dengan wajah meringis menahan nyeri kram yang datang silih berganti. Di sampingnya Rendra duduk terpaku, tangannya menggenggam lembut tangan Rina yang terasa dingin. Air mata menetes tanpa suara dari sudut matanya—rasa bersalah begitu menghimpit dadanya, seolah ia adalah pelaku utama yang menghancurkan kebahagiaan istrinya sendiri. "Maafkan aku, Rin... Maafkan aku..." bisiknya berulang-ulang, menempelkan punggung tangan Rina ke pipinya yang basah. "Aku bodoh sekali... Aku membiarkan masa lalu merusak segalanya... Tolong bertahanlah, kamu dan anak kita..." Bu Widya berdiri tak jauh dari sana, punggungnya tegak namun matanya memancarkan kemarahan yang tak terlukiskan. Wanita yang dikenal tegas dan berwibawa itu kini menggenggam erat ponsel yang tadi ditemukan
Pagi itu sinar matahari menyelinap lembut lewat jendela kaca besar ruang kerja Rina di butik miliknya. Ruangan itu beraroma bunga melati segar dan tumpukan kain-kain sutra berwarna lembut yang baru saja datang dari pemasok. Rina duduk di balik meja kerjanya yang rapi, jari-jarinya yang lentik sedang menyusun sketsa gaun pesta untuk klien penting minggu depan. Wajahnya tampak tenang, namun sesekali tangannya mengelus perut bagian bawah yang masih rata. Ia belum memberitahu siapa pun—bahkan pada Rendra maupun Bu Widya—bahkan dua hari yang lalu tes kehamilan menunjukkan dua garis merah jelas. Kandungannya masih sangat muda, baru menginjak usia empat minggu, tapi rasa bahagia itu sudah memenuhi setiap sudut hatinya. Belum sempat ia melamun lebih jauh, ponsel di sampingnya bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, disertai sebuah berkas video berukuran cukup besar. Rina mengernyitkan dahi. Dalam hatinya ia bertanya-tanya siapa yang mengirim pesan tanpa menyertakan na
Malam itu di rumah sederhana mereka udara mulai terasa sejuk seiring berlalunya matahari. Setelah seharian Dimas beraktivitas di kantor Pak Adi, tubuhnya terasa sedikit lelah, namun ada sesuatu yang lain yang lebih kuat mendominasi pikirannya. Sejak hari ia mulai bekerja kembali, perasaan di dala
Pagi itu udara masih terasa sejuk dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan. Matahari baru saja mulai muncul perlahan, menyinari atap-atap rumah yang berdiri berjejer. Dimas bangun lebih awal dari biasa. Ia bangun dengan wajah yang terlihat segar dan penuh semangat, seolah-olah harapan baru benar
Rina turun dari motor, melepas helm, dan melangkah masuk ke rumah. Langkah kakinya terhenti sejenak begitu masuk ke ruang tengah. Ia melihat lantai mengkilap bersih, tidak ada debu sedikit pun. Baju-baju yang biasanya menumpuk sudah tergantung rapi di jemuran. Semua barang tertata dengan bai
Keesokan harinya Dimas hanya diam saja duduk di depan rumah. Seperti biasa, Rina memasak dulu sebelum berangkat kerja. Ia bergerak ke sana kemari di dapur, menyiapkan makanan seadanya, namun tidak sekalipun ia menoleh ke arah suaminya. Tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun, Rina meletakkan kunci


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.