“Sudah.” Sahut Ajeng dengan bibir cemberut.“Sudah dimakan buburnya?”“Sudah.”“Bagus, sekarang istirahat biar cepat pulih, okay? Aku sayang kamu..”“Aku benci kamu, Jo! Bencciiiiiii!” Jerit Ajeng lalu memutuskan panggilan tersebut. Ajeng melemparkan ponselnya ke atas bantal, dia sangat marah dan kesal. Dia tidak ingin Jordy terus menghubungi dirinya, tapi sepertinya keinginannya tersebut tidak akan pernah terwujud. Jordy memegang kartu kemenangan sejak awal. Hanya dengan menghubungi kedua orangtua Ajeng di kota Jepara, maka Ajeng tidak akan bisa berkutik!Di sisi lain,Dika sudah kembali ke studio dengan dua bungkus nasi goreng juga dua kantong kopi dalam plastik.“Kenapa? Kesambet? Ketawa kok sampai segitunya!” Dika ikut tersenyum seraya mengambil piring dan cangkir dari rak lemari di sudut ruangan. Pria itu menuang kopi ke dalam cangkir, lalu menyodorkan satu cangkir ke arah Jordy.“Ajeng, dia imut sekali!” Serunya sambil terkikik geli membayangkan wajah marah Ajeng saat ini.“Das
Last Updated : 2026-08-09 Read more