"Gerbang..."Suara lelaki itu kembali menghilang. Tubuhnya mendadak menegang. Napasnya tersengal, seolah setiap hembusan udara menjadi pertarungan yang menyakitkan. Ratna segera menopang kepalanya, sementara tangan kirinya bergerak cepat mengambil kendi kecil yang dibawanya sejak meninggalkan Candi Gunung Arum."Pelan-pelan," ucap Ratna lembut. "Jangan memaksakan diri. Lukamu belum berhenti menguras tenaga."Ia membasahi sepotong kain dengan air, lalu mengusap bibir lelaki itu yang pecah-pecah. Wisanggeni masih berjongkok di sisi lain. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah lelaki asing tersebut.Ada sesuatu yang terasa begitu akrab. Bukan dari wajahnya dan bukan pula suaranya. Melainkan aura yang mengelilinginya. Aura itu mengingatkan Wisanggeni pada sesuatu yang pernah ia rasakan di Kahyangan, tetapi begitu samar hingga sulit dijelaskan.Ki Jagabaya memecah keheningan. "Angkat dia ke balai desa."Beberapa pemuda segera maju, namun belum sempat mereka menyentuh tubuh lelaki itu, ia
Last Updated : 2026-08-03 Read more