Inicio / Fantasi / Wisanggeni : Api Dari Langit / BAB 15 — Gerbang Kabut (2)

Compartir

BAB 15 — Gerbang Kabut (2)

Autor: Ana Aulia
last update Fecha de publicación: 2026-08-07 20:30:37

Kabut menutup jalan di belakang mereka begitu rapat hingga suara-suara dari Desa Wukir Sari perlahan menghilang. Tidak ada lagi suara warga yang bekerja dan tidak ada lagi suara ayam atau bunyi kayu dipukul dari kejauhan. Bahkan suara angin pun seakan tertahan di balik dinding putih yang mengelilingi jalan.

Wisanggeni berhenti beberapa langkah setelah memasuki jalur batu sedangkan Ratna yang berjalan di sampingnya ikut berhenti.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Wisanggeni : Api Dari Langit   BAB 13 Yang Terbangun dari Dasar Gunung

    Guncangan berikutnya datang lebih keras. Lantai Sanggar Sukma bergeser di bawah kaki mereka. Debu berjatuhan dari langit-langit, sementara retakan yang sebelumnya hanya terlihat di sekitar altar kini menjalar ke seluruh ruangan seperti urat hitam yang membelah batu tua.Ratna kehilangan keseimbangan. Wisanggeni segera meraih lengannya dan menariknya menjauh dari bagian lantai yang mulai amblas."Ratna, menjauh dari altar!""Aku baik-baik saja." Ratna berusaha berdiri tegak, tetapi matanya tidak pernah lepas dari Simbar Agni yang masih berada di tangan Wisanggeni. "Yang menjadi masalah bukan lantainya. Lihat ke sana."Wisanggeni mengikuti arah pandangannya. Di balik altar, dinding batu yang sejak tadi tertutup kabut perlahan terbelah. Bukan ka

  • Wisanggeni : Api Dari Langit   BAB 12 Api yang Memanggil Jiwa

    Retakan pada altar semakin melebar. Cahaya merah yang semula hanya muncul sebagai garis tipis kini menjalar ke seluruh permukaan batu, mengikuti ukiran kuno yang mengelilingi Simbar Agni. Dari celah-celah tersebut keluar hawa panas yang bercampur dengan aroma tanah basah dan sesuatu yang sulit dijelaskan, seperti udara dari tempat yang telah lama tertutup.Wisanggeni berdiri beberapa langkah dari altar. Kedua tangannya masih mengepalkan dua api yang berbeda. Api Suci di tangan kanannya menyala dengan warna yang lebih terang, sementara Api Penuntun Jiwa di tangan kirinya berpendar jingga lembut.Keduanya tidak saling bertabrakan justru sebaliknya. Seolah-olah kedua api itu sedang merasakan sesuatu yang sama. Ratna berdiri di sampingnya dengan lonceng perak tergenggam erat. Tatapannya tidak pernah lepas dari Simbar Agni yang perlahan terangkat dari permukaan altar.

  • Wisanggeni : Api Dari Langit   BAB 11 Jejak Sang Ibu

    Cahaya itu semakin dekat. Wisanggeni dan Ratna berjalan perlahan menyusuri lorong yang dipenuhi kabut. Tidak ada lagi suara tangisan ataupun bisikan seperti sebelumnya. Seolah seluruh jiwa yang menghuni tempat itu memilih menyingkir, membiarkan mereka melewati jalan yang telah dibuka oleh Api Penuntun Jiwa.Semakin dekat mereka dengan cahaya, semakin jelas pula perubahan yang terjadi pada dinding batu di sekeliling mereka.Relief-relief tua mulai terlihat di balik kabut. Ada gambar para penjaga yang berdiri mengelilingi sebuah api besar. Beberapa di antaranya membawa keris, sementara yang lain tampak mengangkat tangan ke arah langit. Di antara mereka terdapat sosok perempuan yang berdiri dengan kedua telapak tangan terbuka.Api digambarkan mengalir dari tubuh perempuan itu menuju beberapa sosok yang berada di hadapannya.Ratna berhenti. "Wisanggeni, lihat."Ia mendekati dinding dan membersihkan sebagian debu yang menutupi relief. "Ini bukan sekadar gambaran para penjaga."Wisanggeni be

  • Wisanggeni : Api Dari Langit   BAB 10 Penjaga Gunung Agni (3)

  • Wisanggeni : Api Dari Langit   BAB 9 Penjaga Gunung Agni (2)

    Tangga batu itu semakin dalam membawa mereka menuju perut Gunung Agni. Udara yang sebelumnya terasa dingin perlahan berubah menjadi hangat. Semakin jauh mereka turun, hawa panas semakin jelas terasa di kulit. Dinding di kedua sisi tangga juga berubah. Batu-batu hitam yang kasar mulai dipenuhi garis-garis tipis berwarna merah, seolah terdapat bara yang mengalir di balik permukaannya.Ratna menyentuh salah satu dinding dengan ujung jarinya, lalu segera menarik tangannya. "Panas."Wisanggeni menoleh. "Jangan disentuh.""Aku hanya ingin memastikan.""Dan sekarang kau sudah memastikan bahwa gunung ini tidak ingin disentuh."Ratna

  • Wisanggeni : Api Dari Langit   BAB 9 Penjaga Gunung Agni

    Cahaya merah di dalam celah batu itu padam begitu cepat hingga Wisanggeni sempat mengira dirinya hanya melihat bayangan yang terbentuk oleh pantulan cahaya pagi. Namun hawa panas yang masih tertinggal di udara membuatnya tahu bahwa apa yang baru saja terjadi bukan ilusi.Ratna berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan tangan masih menggenggam lonceng perak. Wajahnya tampak waspada. Matanya terus mengamati celah sempit di antara bebatuan, seolah berharap sesuatu akan kembali muncul dari kegelapan."Wisanggeni, jangan bergerak dulu."Wisanggeni tidak menjawab, tatapannya tertuju pada tanah di hadapannya. Pecahan batu hitam yang tadi tergeletak di sana kini tidak lagi bergerak. Benda itu hanya diam di atas batu, memantulkan cahaya samar yang

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status