Suasana di rumah kaca mewah itu terasa seperti ruang sidang. Dinding kaca memperlihatkan taman mawar, tapi keindahan itu terasa palsu di hadapan selusin pasang mata yang menatap Evelyn sejak ia melangkah masuk. Ibu Wijaya menyambutnya dengan senyum manis. Dari kursi kehormatan di ujung meja, ibu mertuanya mengangkat tangan mengundang Evelyn mendekat.“Ah, akhirnya menantuku datang. Evelyn, kemarilah. Jangan biarkan para Nyonya ini menunggu terlalu lama.” ucap ibu Wijaya Evelyn membungkuk sopan. “Selamat siang, Ibu. Selamat siang, para Nyonya. Maaf jika saya sedikit terlambat.”Ia duduk di kursi yang telah disediakan, tepat di samping Ibu Wijaya.Ibu Wijaya beralih ke para tamu, tiba-tiba bertutur dalam bahasa Prancis, sengaja memamerkan kemampuannya.“Mesdames, voici la femme de Bram. Elle est encore en train d'apprendre nos coutumes, alors soyez indulgentes.” (Nyonya, inilah istri Bram. Dia masih belajar adat istiadat kita, ja
Terakhir Diperbarui : 2026-08-12 Baca selengkapnya