로그인Suasana di rumah kaca mewah itu terasa seperti ruang sidang. Dinding kaca memperlihatkan taman mawar, tapi keindahan itu terasa palsu di hadapan selusin pasang mata yang menatap Evelyn sejak ia melangkah masuk.
Ibu Wijaya menyambutnya dengan senyum manis. Dari kursi kehormatan di ujung meja, ibu mertuanya mengangkat tangan mengundang Evelyn mendekat.“Ah, akhirnya menantuku datang. Evelyn, kemarilah. Jangan biarkan para Nyonya ini menunggu terlalu lama.” ucap ibu WijayaSuasana di rumah kaca mewah itu terasa seperti ruang sidang. Dinding kaca memperlihatkan taman mawar, tapi keindahan itu terasa palsu di hadapan selusin pasang mata yang menatap Evelyn sejak ia melangkah masuk. Ibu Wijaya menyambutnya dengan senyum manis. Dari kursi kehormatan di ujung meja, ibu mertuanya mengangkat tangan mengundang Evelyn mendekat.“Ah, akhirnya menantuku datang. Evelyn, kemarilah. Jangan biarkan para Nyonya ini menunggu terlalu lama.” ucap ibu Wijaya Evelyn membungkuk sopan. “Selamat siang, Ibu. Selamat siang, para Nyonya. Maaf jika saya sedikit terlambat.”Ia duduk di kursi yang telah disediakan, tepat di samping Ibu Wijaya.Ibu Wijaya beralih ke para tamu, tiba-tiba bertutur dalam bahasa Prancis, sengaja memamerkan kemampuannya.“Mesdames, voici la femme de Bram. Elle est encore en train d'apprendre nos coutumes, alors soyez indulgentes.” (Nyonya, inilah istri Bram. Dia masih belajar adat istiadat kita, ja
Evelyn memandang Bram dengan tatapan penuh tanya. “Mereka bergerak?”“Mereka sedang mengecek pemilik kendaraan berdasarkan pelat nomor itu. Butuh beberapa menit untuk mengakses database.” Bram menatap layar yang masih menampilkan gambar pelat nomor. “Sementara itu, kita tunggu.”Evelyn kembali duduk di kursinya, tetapi matanya tidak pernah lepas dari ponsel Bram yang tergeletak di atas meja.Tak lama kemudian, ponsel Bram bergetar di atas meja. Bram segera meraihnya dan mengangkat. “Ya.”Beberapa detik ia hanya mendengarkan. Matanya berubah semakin tajam. Alisnya naik sedikit, lalu mengerut. “Kirim lokasinya.”Telepon ditutup dengan gerakan cepat, Bram menoleh kepada Evelyn. “Mobil itu pakai identitas palsu, tapi mereka berhasil mengikuti” Bram mengambil tablet dari atas meja dan membuka peta digital.“Ke mana tepatnya?” Evelyn berdiri dan menghampiri Bram, matanya menyusuri peta di layar tablet.Bram menunjukkan titik m
Evelyn berbalik menuju meja kecil untuk mengambil buku kontak. Tanpa ragu, ia menghubungi nomor Keamanan Swasta.“Selamat malam, saya Evelyn Wijaya dari Wijaya Mansion.” ucapnya, suaranya tetap tenang.“Selamat malam, Nyonya Evelyn. Ada yang bisa kami bantu?” tanya pria di seberang sana.“Ada pencurian pusaka keluarga di mansion.” jawab Evelyn singkat.“Baik, kami sampai dalam dua puluh menit.” sahut suara di telepon itu cepat.“Jangan bocorkan informasi ini ke siapa pun.” tegas Evelyn.“Baik, Nyonya. Informasi ini aman bersama kami.” balas pria itu patuh.Telepon ditutup.~~~Evelyn kembali menekan deretan angka, kali ini nomor Bram.Evelyn langsung bicara. “Bram, ada masalah di mansion.” ucapnya dingin.“Hm.” gumam Bram dari balik telepon, terdengar tidak tertarik.“Kau harus pulang sekarang.” lanjut Evelyn.“Hanya karena itu kau meneleponku? Nggak, aku sedang sibuk
Pagi itu, kegaduhan kecil terdengar dari ruang penyimpanan perhiasan Ibu Wijaya di lantai dua.Beberapa pelayan berkerumun saling bisik di depan pintu, wajah-wajah mereka pucat pasi.Evelyn dengan cepat menghampiri kerumunan itu. “Ada apa ini? Kenapa kalian malah berkumpul dan berbisik-bisik seperti ini?”Kepala pelayan baru maju menghampirinya dengan napas memburu dan wajah panik luar biasa. “Nyonya Evelyn, kalung berlian pusaka keluarga hilang dari lemari penyimpanan!”“Apa?!” Evelyn melotot, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.“Lemarinya sudah terbuka dan tempatnya kosong!”“Sudah digeledah semua ruangan? Sudah kalian periksa sudut demi sudut?!” geram Evelyn, berusaha menahan emosinya, mencoba tetap berpikir jernih.Kepala pelayan menggeleng cepat dengan bibir gemetar. “Be-belum, Nyonya. Kami semua takut sekali Ibu Wijaya akan marah besar kalau sampai tahu barang berharganya hilang!”Evelyn men
Sepuluh menit kemudian, pintu ruang makan terbuka pelan. Evelyn melangkah masuk.Para tamu menoleh serentak.“Maaf atas kekacauan tadi.” kata Evelyn tenang. Ia duduk kembali di kursinya.Ibu Wijaya menatap menantunya dengan mata menyipit. “Sudah selesai bersembunyi di dapur, Evelyn? Kami hampir mengira kau lari keluar rumah karena malu.”Evelyn tersenyum tipis. “Saya nggak lari ke mana pun, Bu. Saya cuma pergi untuk memperbaiki kesalahan saya, bukan menghindarinya.”Seorang pelayan datang membawa lobster kedua di atas nampan perak, meletakkannya perlahan di hadapan Evelyn. Seluruh mata di meja itu menunggu untuk melihat apakah ia akan mengulangi kekacauan yang sama.Evelyn mengambil alat penjepit dengan tangan yang jauh lebih mantap dari sebelumnya. Ia mengingat setiap kata yang diajarkan Mbok Yati di dapur.Krak.Ibu Ratnasari mengangkat alisnya, jelas terkejut dengan perubahan itu. “Cepat sekali belajarnya. Ba
Di kamar Rara, gadis kecil itu sedang duduk di tepi tempat tidur, memandangi Evelyn yang tergesa-gesa memilah beberapa lembar catatan di tangannya.“Kak Evelyn kenapa buru-buru begitu?” tanya Rara, memperhatikan wajah kakaknya yang tegang.Evelyn berhenti sejenak, mencoba tersenyum. “Kakak ada acara malam ini, Ra. Ibu Wijaya mengundang beberapa tamu untuk makan malam.”“Aku boleh ikut nggak?” tanya Rara penuh harap.Evelyn menggenggam tangan adiknya. “Nggak, Ra. Malam ini kamu harus tetap di kamar ya, jangan keluar dulu. Nanti Kakak yang antar makan malam kamu ke sini.”Rara mengerutkan dahi, kecewa. “Kenapa? Apa aku ada salah?”Evelyn mengusap rambut adiknya. “Enggak, kamu nggak salah apa-apa. Cuma malam ini tamunya orang-orang penting, dan Kakak harus fokus melayani mereka.”Rara mengangguk pelan. “Iya, Kak. Aku ngerti kok.”Evelyn memeluk adiknya sebentar sebelum berdiri dan berjalan keluar kamar.~~







