Setelah suara mobil benar-benar menghilang di balik gerbang, Evelyn merosot ke sofa. Tangannya gemetar, pipinya masih perih, dan air mata mulai menetes, mengalir di pipi yang memerah.“Kamu gila menerima tantangan itu.” kata Bram, berdiri di depannya dengan tangan terlipat di dada.Evelyn mendongak, menatap suaminya dengan mata merah dan basah. “Aku nggak punya pilihan lain, Bram. Kamu lihat sendiri gimana dia menyerangku. Kalau aku menolak, dia akan bilang aku memang nggak pantas, dan semua yang sudah aku perjuangkan selama ini akan sia-sia.”“Gala amal ini bukan main-main, Evelyn.” Bram duduk di kursi seberangnya, bersandar ke belakang dengan ekspresi serius. “Satu kesalahan kecil bisa jadi gunjingan bertahun-tahun.”Evelyn mengusap pipinya. “Aku tahu, tapi kalau aku terus mundur setiap kali Ibu memberiku tantangan, aku nggak akan pernah dianggap. Aku sudah lelah menjadi bayangan, Bram. Aku harus membuktikan kalau aku lebih dari sekadar nama.”
Terakhir Diperbarui : 2026-07-26 Baca selengkapnya