"Sebuah pilihan yang sangat klasik, Suamiku," tawa Laura pecah, jernih dan luar biasa memabukkan, memantul di dinding baja ruang brankas bawah tanah itu.Tidak ada sebersit pun kepanikan di wajah sang Nyonya Besar. Alih-alih gemetar menatap revolver perak di atas meja baja, Laura justru melangkah maju dengan pinggul yang bergoyang anggun. Jubah sutra hitamnya berdesir pelan, mengekspos paha jenjangnya di setiap langkah. Ia menatap lurus ke arah Tuan Bald yang berdiri pongah, seolah ancaman mematikan dari pria tua itu hanyalah lelucon murahan.Di belakangnya, napas Edward memburu. Namun, tatkala sang algojo melihat Laura meraih gagang revolver itu dengan jemarinya yang lentik, sisa-sisa amarah di mata Edward perlahan menguap, digantikan oleh sebuah kepasrahan yang luar biasa gelap dan memuja.Edward melempar senapan serbunya ke lantai baja dengan bunyi dentangan keras. Pria yang tak pernah tunduk pada kematian itu kini berlutut dengan satu kaki tepat di hadapan Laura, membiarkan dada t
Last Updated : 2026-10-18 Read more