Pagi itu, sinar matahari menerobos jendela besar ruang makan. Meja sepanjang tiga meter telah dipenuhi berbagai hidangan. Roti panggang, telur setengah matang, salad, buah-buahan segar, hingga kopi hitam kesukaan Bald telah tertata rapi.Faela berdiri beberapa langkah di belakang Nyonya Laura. Seperti biasa, dia menunggu jika majikannya membutuhkan sesuatu. Namun, pagi ini suasananya terasa berbeda.Laura tampak lebih banyak diam. Tatapannya kosong, sesekali justru mengarah ke halaman depan melalui jendela kaca."Laura?" Suara Bald membuyarkan lamunannya."Hmmm?""Kamu sakit?"Laura menggeleng. "Enggak.""Kamu enggak makan?""Nanti saja."Bald menatap istrinya beberapa saat. Kalau biasanya Laura cerewet menanyakan jadwalnya atau mengingatkan agar tidak melewatkan makan siang, hari ini perempuan itu bahkan hampir tidak mengucapkan sepuluh kalimat."Kamu masih kepikiran semalam?"Laura tersentak. Semalam ... Bukan kegagalan suaminya untuk urusan ranjang yang memenuhi pikirannya. Melaink
Huling Na-update : 2026-06-29 Magbasa pa