"Saya tidak bisa bertemu di tempat umum, apalagi di kantor Anda, Ibu Lusty," suara wanita di seberang telepon terdengar sangat berhati-hati, hampir menyerupai bisikan yang tertahan.Lusty memijat pelipisnya yang berdenyut, menimbang risiko dari tawaran yang terdengar tidak biasa ini. Intuisi bisnisnya mendeteksi ada sesuatu yang janggal, namun rasa penasaran akan kelanjutan dana investasi perusahaannya jauh lebih mendominasi.Setelah keheningan yang cukup lama, Lusty akhirnya mengalah dan menyebutkan alamat unit hunian vertikal miliknya yang baru."Baik. Datanglah ke apartemen saya dua jam lagi. Jangan membawa siapa pun," tegas Lusty sebelum memutus sambungan sepihak.Ia segera beranjak menuju ruang basuh untuk membersihkan raga dari sisa kantuk yang masih menggelayut. Guyuran air dingin membantu menjernihkan isi kepala, disusul dengan kunyahan roti gandum panggang seadanya sebagai pengisi lambung yang kosong.Tepat ketika jarum jam menunjuk angka dua siang, suara bel pintu berdenting
Terakhir Diperbarui : 2026-07-16 Baca selengkapnya