Suasana ruang tengah rumah kayu itu terasa hangat dan akrab. Setelah keputusan hati sudah bulat, kini giliran membicarakan rencana ke depan yang paling penting: pernikahan. Lusty duduk bersila di tikar pandan, diapit oleh Raman dan kedua orang tuanya. Wajahnya tampak berseri-seri, jauh dari tekanan yang biasa ia rasakan di kota.“Kalau sudah sama-sama mantap, kapan kalian berdua berniat melangsungkan pernikahan?” tanya Pak Subarjo lembut, memecah keheningan.Lusty menoleh ke arah Raman, menunggu jawaban pria itu. Sebelum sempat berbicara, Raman sudah mengangguk mantap.“Menurut saya, tidak perlu ada masa bertunangan yang lama, Pak, Bu,” kata Raman dengan nada tenang. “Kalau hati sudah satu, mengapa harus menunda-nunda? Kita langsung nikah saja. Lebih sederhana, dan tidak membuang waktu.”Lusty segera menyetujuinya dengan antusias. “Betul kata Raman. Saya juga ingin begitu. Tidak ada perlambatan lagi. Yang penting sah secara agama dan negara, serta didoakan oleh orang tua.”Mendengar it
Terakhir Diperbarui : 2026-07-18 Baca selengkapnya