“Mama tidak perlu marah seperti ini,” ujar Lusty tenang, berdiri tegak di tengah halaman rumah kayu itu. Di depannya berdiri dua mobil besar milik keluarga, lengkap dengan sopir dan pengawal. Ratna melangkah mendekat dengan wajah merah padam, perhiasannya berkilau terkena sinar matahari. Di belakangnya, Mahendra hanya menggeleng pelan, sementara Lula berdiri canggung di sisi.“Tidak marah? Kamu menghilang berhari-hari lalu ternyata bersembunyi di tempat sempit ini dengan orang asing!” bentak Ratna, suaranya meninggi. “Kamu malu-maluin nama keluarga kita, Lusty!”Lusty menatap ibunya tajam. “Justru kelakuan Ibu hari ini yang akan membuat kita lebih malu. Datang dengan banyak orang, marah-marah di depan warga desa. Kalau sampai tersebar berita, yang dicemooh bukan aku, tapi sikap Ibu yang angkuh dan tidak tahu tata krama.”Ratna terhenti, mulutnya terbuka ingin membantah tapi tak ada kata yang keluar. Ia sadar tatapan warga sekitar mulai tertuju pada keributan itu.“Di sini kami hidup de
Terakhir Diperbarui : 2026-07-18 Baca selengkapnya