“Terima kasih sudah bersedia datang ke sini, Raman,” buka Mahendra pelan, suaranya terdengar lebih tenang dibandingkan pertemuan sebelumnya. “Untuk membicarakan hal yang sangat mendasar dan menyangkut masa depan putri kami.”Di sebelahnya duduk Lusty, sesekali melirik ke arah pria itu dengan rasa bangga sekaligus cemas. Di hadapan mereka, Ratna dan Mahendra duduk berhadapan, wajahnya masih tampak serius dan penuh pengawasan.Raman menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat. “Saya siap mendengarkan apa pun yang Bapak dan Ibu sampaikan. Saya datang ke sini bukan untuk memaksakan kehendak, melainkan untuk menyampaikan niat saya yang tulus ingin membimbing dan mendampingi Nona Lusty seumur hidup saya.”Ratna memperhatikan sikap Raman dengan saksama. Ia mencari-cari tanda kesombongan, kepura-puraan, atau niat buruk di wajah pria itu, namun yang ia temukan hanyalah ketenangan, kerendahan hati, dan ketulusan yang sulit dipalsukan. Tidak ada getaran takut yang berlebihan, tidak ada pula
Terakhir Diperbarui : 2026-07-19 Baca selengkapnya