BAB 18Mobil sport perak itu akhirnya berhenti di kaki bukit yang terpencil, jauh dari kebisingan pusat kota. Vivienne menatap keluar jendela dengan mata membelalak. Di depan mereka membentang padang rumput hijau yang luas, berhias bunga-bunga liar yang bergoyang tertiup angin pagi. Namun, di ujung sana, bukit yang dimaksud Tristan tampak begitu curam dan tinggi.Vivienne menoleh ke arah Tristan dengan tatapan tidak percaya. "Gila kamu, ya? Kamu mau aku mendaki bukit setinggi itu? Lihat tubuhku, Tristan! Kamu meledek aku?!"Tristan hanya menyeringai kecil. Tanpa berkata apa-apa, ia keluar dari mobil dan memberikan sebuah kode lewat isyarat tangan ke arah pria berseragam di kejauhan. Tak lama kemudian, suara dentuman api terdengar samar, dan sebuah balon udara besar yang megah perlahan mengembang dari balik pepohonan.Vivienne tertegun. Mulutnya sedikit terbuka. "Itu...""Ayo naik," ajak Tristan, suaranya kini terdengar tenang, hampir lembut.Vivienne mengikuti pria itu dengan ragu-rag
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-07-04 อ่านเพิ่มเติม