Istri Gendut Sang CEO : Gairah Terlarang Empat Miliarder

Istri Gendut Sang CEO : Gairah Terlarang Empat Miliarder

last updateLast Updated : 2026-08-18
By:  Lady-NoirCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
140Chapters
1.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Suamimu pria bodoh, Vivienne. Dia membutakan mata dari pesonamu, dan kini aku tidak akan membiarkanmu lepas," bisik Alistair Vance dengan tatapan intens yang mengunci pergerakan wanita itu. Vivienne Sterling tertegun, merasakan dominasi pria di hadapannya. Dua tahun dia bertahan dalam pernikahan yang hambar dan penuh cemoohan dari Dominic Thorne. Namun, aksi nekat Vivienne untuk menunjukkan pesona aslinya di malam perjamuan justru menarik perhatian predator yang jauh lebih berbahaya. Sosok Vivienne yang dulu dipandang sebelah mata, kini menjelma menjadi obsesi mutlak bagi empat penguasa Klan Vance. Di balik dinding mewah sangkar emas mereka, Vivienne harus menghadapi takdir baru yang rumit: terjebak di antara dominasi sang kepala keluarga, ambisi sang putra mahkota, dan kekejaman dua keponakannya yang bersaing ketat untuk menguasai hatinya.

View More

Chapter 1

1

BAB 1

Gaun satin berwarna *maroon* itu terasa seperti jerat yang mengekshumasi rasa percaya diri Vivienne Sterling. Di depan cermin besar toilet hotel mewah di pusat kota, ia menatap pantulan dirinya dengan napas yang tertahan.

Tinggi 158 sentimeter, berat 80 kilogram. Dua tahun lalu, saat ia melangkah di altar pernikahan, tubuhnya langsing, terawat, dengan senyum cerah yang sempat membuat Dominic terpaku sesaat. Namun, dua tahun hidup dalam pernikahan dingin penuh penolakan mengubah segalanya. Stres, depresi, dan rasa kesepian yang menggerogoti jiwa membuat Vivienne melarikan diri pada makanan hingga tubuhnya membengkak tak terawat.

Ironisnya, di usia pernikahan yang menginjak dua tahun, jangankan memiliki anak, Dominic bahkan belum pernah menyentuhnya sama sekali. Pria itu memperlakukannya tak lebih dari pajangan usang yang memalukan dalam status perawan yang ironis.

"Kau berniat bersembunyi di sini sampai acara selesai, Vivienne?"

Suara dingin dan bariton itu memutus lamunan Vivienne. Dominic Thorne, suaminya, berdiri di ambang pintu penghubung dengan setelan jas *custom-made* yang membungkus tubuh tegapnya. Sempurna. Kata yang sangat kontras dengan penampilan Vivienne malam ini.

Dominic berjalan mendekat, menatap istrinya dari pantulan cermin dengan mata elang yang tidak pernah memancarkan kehangatan. "Tetap di dekatku, jangan banyak bicara, dan demi Tuhan... jangan menyentuh makanan. Reputasi Thorne Enterprises sedang dipertaruhkan malam ini. Cara makanmu yang berantakan sangat memalukan."

Vivienne meremas jemarinya yang mulai berkeringat, merasakan cincin pernikahan mereka yang terasa kekecilan di jarinya yang montok. "Aku tahu, Dominic. Aku tidak akan memalukanmu."

"Bagus," sahut Dominic pendek tanpa minat, lalu berbalik memunggungi istrinya. "Ayo keluar."

Jika bukan karena mendiang Nenek Dominic yang bersikeras menjodohkan mereka sebagai balas budi karena Vivienne pernah menyelamatkan nyawa wanita tua itu, Dominic tidak akan pernah sudi melirik gadis miskin tanpa pendidikan seperti dirinya. Dominic memastikan Vivienne membayar "keterpaksaan" itu dengan pengabaian yang kejam setiap harinya. Malam ini pun, Dominic terpaksa membawanya hanya karena desakan sang ibu yang begitu mencintai menantu plus-size ini.

Begitu melangkah memasuki *grand ballroom*, suasana mewah langsung menyergap. Langit-langit tinggi berhias kristal, denting gelas sampanye, dan tawa renyah para sosialita bertubuh lampai bak model papan atas. Vivienne secara refleks menegakkan bahunya yang gemetar, mencoba bertahan di bawah tatapan-tatapan menghakimi yang langsung mengarah padanya sejak detik pertama.

"Oh, Dominic! Kau akhirnya datang!"

Beberapa rekan bisnis Dominic, pria-pria parlente dari keluarga bangsawan lama, mendekat sambil membawa pasangan mereka yang bertubuh ideal dalam balutan gaun-gaun *couture* yang mengekspos tulang selangka mereka yang indah.

Tatapan mata mereka langsung beralih pada Vivienne, menyapu tubuhnya dari atas ke bawah dengan binar geli yang kentara. Alih-alih menyapa Vivienne, salah satu teman Dominic, Lucas, tertawa renyah sambil menyenggol bahu Dominic.

"Dominic, seleramu benar-benar mengalami kemunduran yang drastis setelah putus dengan Giselle? Kupikir kau menggandeng seekor babi, ternyata... istrimu?" celetuk Lucas tanpa beban, memicu tawa tertahan dari para wanita di sekitar mereka.

Hati Vivienne mencos seperti ditusuk jarum tak kasat mata. Ia melirik suaminya. Rahang Dominic sempat menegang sesaat—entah karena tersinggung oleh ucapan Lucas atau karena malu—namun pria itu memilih menyunggingkan senyum tipis formal untuk mencairkan ketegangan bisnis. Dominic membiarkan lelucon kejam itu lewat begitu saja, seolah mengonfirmasi bahwa kata-kata Lucas tidak sepenuhnya salah.

"Sudahlah, Lucas. Jangan menggoda Dominic seperti itu," sahut seorang wanita bergaun *gold* dengan nada sok bersimpati, meski matanya menatap Vivienne dengan jijik.

Vivienne mengepalkan tangannya di balik lipatan gaun maroon-nya hingga kuku-kukunya memutih. Rasa tidak berharga dan terhina menumpuk di dadanya, menyumbat tenggorokannya hingga ia kesulitan bernapas.

Tiba-tiba, lampu seluruh *ballroom* meredup. Suara riuh rendah para tamu perlahan senyap saat perhatian semua orang teralih ke panggung utama yang diterangi cahaya *spotlight* temaram.

"Para hadirin yang terhormat," suara pembawa acara menggema lewat pelantang suara. "Malam ini, kita kedatangan tamu kehormatan istimewa. Seorang seniman kebanggaan yang baru saja kembali setelah lima tahun menaklukkan panggung-panggung Eropa dan Amerika. Sambutlah... Giselle Moreau!"

Mendengar nama itu, Vivienne merasakan tubuh Dominic menegang seketika di sampingnya. Tangannya yang memegang gelas koktail mengeras hingga urat-uratnya menonjol.

Alunan musik piano yang melankolis dan dramatis mulai mengalir. Dari balik tirai beludru, seorang wanita muncul. Giselle Moreau. Wanita itu adalah perwujudan sejati dari kata sempurna. Tubuhnya tinggi, langsing, dan bergerak dengan kelenturan yang luar biasa dalam balutan kostum tari kontemporer yang tipis, memamerkan lekuk tubuh idealnya yang berayun anggun.

Giselle menari dengan emosi yang begitu hidup, menceritakan kisah kerinduan dan penyesalan. Dan di tengah-tengah tariannya yang memukau, mata Giselle mengunci lurus ke arah satu titik di kerumunan. Titik di mana Dominic berdiri.

Vivienne menoleh lambat ke arah suaminya. Jantungnya berdenyut menyakitkan melihat ekspresi wajah Dominic. Pria dingin itu kini menatap panggung tanpa berkedip. Ada binar kerinduan, kekaguman, dan gairah yang begitu murni di mata Dominic—tatapan yang sama sekali belum pernah diberikan kepada Vivienne selama dua tahun pernikahan mereka.

Bisik-bisik di sekitar Vivienne kembali terdengar tajam.

"Lihat itu... kisah cinta viral mereka lima tahun lalu benar-benar belum selesai."

"Benar-benar bak bumi dan langit jika dibandingkan dengan wanita gemuk di samping Dominic itu. Dominic pasti tersiksa setiap hari."

Setiap kata dan tatapan memuja Dominic pada mantan kekasihnya menjadi bahan bakar yang membakar habis sisa-sisa kesabaran Vivienne. Rasa mindernya perlahan menguap, digantikan oleh amarah murni yang panas di dalam dadanya. Ia lelah menjadi keset atas pernikahan yang dipaksakan ini.

Tepuk tangan membahana memenuhi ruangan saat Giselle mengakhiri tariannya dengan pose yang begitu elegan, dan lagi-lagi, matanya mengunci pandangan Dominic.

"Giselle benar-benar sebuah karya seni yang sempurna," puji Lucas dengan suara keras, sengaja memprovokasi. "Wanita sejati harusnya memiliki keanggunan seperti itu di dalam darah mereka. Benar kan, Dominic?"

Dominic akhirnya memutuskan pandangannya dari panggung. Ia menoleh ke arah Vivienne, melihat wajah istrinya yang memerah padam dengan napas memburu. Bukannya merangkul, Dominic justru menatapnya dengan kernyitan jijik.

Kamu kenapa, Vivienne? Dan kau berkeringat dan penampilan muterlihat berantakan," bisik Dominic dengan suara tajam dan penuh penekanan di dekat telinga Vivienne. "Pulanglah duluan dengan sopir. Kehadiranmu di sini hanya membuatku malu di depan rekan-rekanku."

*Jedug.*

Sesuatu di dalam diri Vivienne pecah. Batas pertahanannya hancur berkeping-keping. Rasa sakit hati yang tertimbun selama dua tahun diabaikan dan tidak pernah disentuh, kini meledak menjadi keberanian yang nekat.

Belum sempat Vivienne berbalik untuk pergi, sebuah aroma familier yang manis menyeruak. Langkah anggun berbalut kain tipis itu membelah kerumunan. Giselle Moreau tiba-tiba sudah berdiri tepat di hadapan Dominic.

"Apa kabar, Sayang?" ucap Giselle, suaranya mengalun manja tanpa tahu malu.

Wanita itu langsung melingkarkan lengan rampingnya ke leher Dominic. Dan di depan mata Vivienne, Dominic—pria yang selalu bersikap seperti balok es tak tersentuh—tampak begitu bersemangat. Tanpa keraguan, Dominic membalas pelukan itu, mendekap pinggang ramping sang mantan kekasih dengan erat di depan ratusan pasang mata bangsawan.

"Wah... sepertinya cinta lama akan bersemi kembali," celetuk Lucas memprovokasi, memicu senyum penuh arti dari para tamu di sekitar mereka.

Darah Vivienne bergolak panas, naik hingga ke ubun-ubun. Jemarinya yang montok mengepal begitu kencang di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih, menahan getaran hebat yang menjalar dari dada ke seluruh tubuhnya. Napasnya memburu, naik-turun dengan cepat di balik potongan gaun *maroon* yang terasa kian mencekik. Dada Vivienne sesak, bukan lagi karena berat badannya, melainkan karena harga dirinya yang baru saja diinjak hingga ke dasar runtuhan.

Ia tidak akan membiarkan dirinya hancur sebagai lelucon yang menyedihkan.

Dengan sentakan kasar, Vivienne melangkah maju. Tubuh suburnya ditegakkan sempurna, dagunya diangkat tinggi-tinggi menantang arus tatapan menghakimi di sekelilingnya. Gerakan tubuhnya yang tiba-tiba dan penuh penekanan itu seketika memutus kemesraan Dominic dan Giselle.

Vivienne menatap lurus ke arah mata dingin Dominic, lalu beralih menyorot tajam pada mata Giselle. Suaranya tidak lagi gemetar, melainkan keluar dengan lantang, jernih, dan bergema kuat, memotong sisa-sisa obrolan di sekitar mereka hingga beberapa meja mendadak hening seketika.

"Jika semua orang di sini begitu memuja keanggunan... maka aku juga bisa menari seperti cinta pertama suamiku!"

Aula besar itu mendadak senyap bagai kuburan. Dominic terbelalak, matanya memancarkan kilat horor dan kemarahan yang luar biasa atas kelancangan istrinya. Di sisi lain, dari lantai balkon VIP yang paling gelap dan eksklusif, keheningan itu justru menarik perhatian empat pasang mata yang sejak tadi mengamati jalannya acara yang membosankan ini dengan tatapan dingin.

Empat pasang mata dari pria-pria paling berkuasa di negeri itu kini tertuju penuh pada sosok wanita bergaun *maroon* yang baru saja menyulut api peperangan di tengah aula.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Lady-Noir
Lady-Noir
hai, pembaca INDONESIA ...... Selamat datang dibuku kedua aku ya. mungkin cerita ini terlihat er-o-t-i-ca. untuk pembaca global ya aman aman saja. entah untuk pembaca INDONESIA hihi semoga Fl-ku gak kena maki hehe happy reading
2026-07-16 12:18:26
1
0
140 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status