Alexa membalikkan tubuhnya di dalam dekapan Devan, mendongak untuk menatap sepasang mata elang yang kini hanya memancarkan kehangatan untuknya. Rasa haru yang membuncah di dadanya membuat air matanya kembali menetes, namun kali ini bukan karena rasa sakit, melainkan karena kebahagiaan yang begitu mendalam."Terima kasih karena sudah menyimpannya, Devan. Terima kasih karena tidak pernah melupakanku," bisik Alexa lirih.Devan tersenyum tipis, jemarinya bergerak lembut menghapus jejak air mata di pipi mulus istrinya. "Aku yang harus berterima kasih, Alexa. Kamu adalah duniaku, sejak belasan tahun lalu di pemakaman itu."Pria itu menundukkan kepalanya, mengikis jarak di antara mereka hingga deru napas mereka saling bersahutan. Bibir Devan perlahan menyentuh bibir Alexa, mengklaimnya dalam sebuah ciuman yang lambat, lembut, dan penuh dengan perasaan mendalam. Alexa mengalungkan kedua tangannya di leher tegap Devan, membalas ciuman itu dengan seluruh perasaan yang dia miliki. Devan meren
Zuletzt aktualisiert : 2026-07-25 Mehr lesen