Lima tahun terakhir kembali terlintas dalam benaknya. Clara selalu diam-diam menyiapkan segala keperluannya."Maagmu sering kambuh. Kalau keluar buat urusan pekerjaan, jangan lupa bawa obat maag.""Ini susu hangat yang sudah kupanaskan. Aku taruh di sampingmu."Dulu, Rian sama sekali tidak menganggap perhatian-perhatian kecil darinya itu berarti.Sekarang, setiap kali mengingatnya, wajah Clara yang tenang, lembut, tetapi penuh keteguhan selalu muncul di hadapan Rian.Bahkan ... bahkan setelah Rian kembali bertemu Tamara, meski Clara mengetahui apa yang sebenarnya Rian rasakan, dia tetap menjaga ketenangannya, tanpa protes ataupun membuat keributan.Lalu, Alvian ....Setiap kali anak itu melihatnya, dia selalu memanggilnya pelan, "ayah," dengan sorot mata yang dipenuhi harapan sekaligus kehati-hatian.Namun, setiap kali mengingat bagaimana anak itu dilahirkan, Rian sama sekali tidak mampu menumbuhkan rasa sayang kepadanya.Padahal, anak itu benar-benar penurut dan pengertian. Wajahnya p
Mehr lesen