Tersisa satu minggu hari pertunangan, Darka dan Jenika disibukkan dengan kegiatan mengurus dekorasi rumah, memilih pakaian yang bagus, memilih cincin, dan memastikan apapun yang kurang segera terpenuhi. Usai dari mall, mereka berdua singgah di sebuah kafe untuk bersantai sejenak."Kau terlihat sangat siap bertunangan denganku, Nona. Lihatlah barang belanjaan kita. Kau yang paling banyak," sindir Darka.Jenika merotasikan matanya malas. "Ya tentu saja aku harus siap. Siap tak siap aku harus siap, Pria cerewet! Kau pikir ini impianku? Tidak, ini mimpi buruk. Bertunangan dengan orang yang tak punya hati untukku. Itu hal terburuk dalam hidupku."Darka terkekeh mendengar omelan itu. "Ya mau bagaimana? Kita harus mempertanggung jawabkan kesalahan kita sendiri. Lagipula ini kan hanya pertunangan. Hanya sebatas tukar cincin saja. Tak ada ikatan yang lebih dari itu.""Tetap saja semua teman-temanku harus tahu bahwa aku akan menikah denganmu," sahut Jenika. "Satu lagi, berhenti memanggilku Nona
Zuletzt aktualisiert : 2026-09-03 Mehr lesen