Mentari duduk membeku di kursi penumpang di samping kemudi, napasnya berat. Ia bingung, ingin berbicara, ingin menolak, ingin menenangkan diri tapi sepertinya Gavin akan tetap diam, wajah laki-laki itu dingin menatap lurus ke depan.Suasana dalam mobil begitu hening, hanya suara mesin yang menderu dan lampu jalan yang bergerak pelan di kaca jendela. Mentari menelan ludah, pikirannya terus berputar. “Pak Gavin,” suaranya hampir tersedak, “ini, ke mana kita akan pergi, ya?”Gavin menoleh sebentar, matanya tajam, datar, seakan menilai setiap gerak Mentari. Ia menatapnya beberapa detik, lalu kembali menatap jalan, tanpa jawaban.Mobil terus melaju di jalan sepi. Setelah beberapa menit hening, Gavin akhirnya berbicara, suaranya datar seperti biasanya.“Kita akan ke restoran,” ujarnya singkat.Mentari menatap laki-laki itu, ragu, tapi tidak berani bertanya lagi.“Aku lihat tadi, kamu gak makan sama sekali,” tambah Gavin, matanya sesekali melirik Mentari, tetap tenang tapi tajam.Mentari mem
Last Updated : 2026-07-08 Read more